Generasi Muda Perlu Menjaga Budaya Ditengah Arus Global

  • 22 Jun 2026 08:58 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Arus globalisasi yang semakin cepat membawa berbagai pengaruh ke kehidupan generasi muda. Mulai dari gaya berpakaian, musik, bahasa, hingga pola hidup sehari-hari kini banyak dipengaruhi budaya luar yang mudah diakses melalui internet dan media sosial. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda untuk tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa melupakan identitas budaya yang dimiliki. Hal itu disampaikan Anggota KNPI Buleleng, Eni Marhaeni, saat mengisi Obrolan SPADA di RRI Singaraja, Senin (22/6/2026). Menurutnya, perubahan yang paling terlihat akibat globalisasi adalah cepatnya anak muda mengadopsi gaya hidup asing dibandingkan mengenal budaya daerahnya sendiri.

Eni menjelaskan bahwa jati diri budaya merupakan ciri khas yang membedakan masyarakat lokal dengan masyarakat lainnya. Identitas tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bahasa, kebiasaan, hingga nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Ia menilai mulai muncul tanda-tanda berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap budaya lokal, salah satunya ketika banyak anak muda tidak lagi mengenali simbol atau ciri khas daerahnya sendiri. “Generasi muda sekarang itu banyak yang melupakan seperti apa ciri khas dari kita. Banyak yang tidak tahu hal-hal yang sebenarnya merupakan bagian dari budaya kita sendiri,” ujar Eni.

Meski demikian, Eni menegaskan bahwa mencintai budaya lokal bukan berarti harus menolak budaya luar. Menurutnya, generasi muda tetap dapat mengikuti perkembangan global selama tidak melupakan akar budaya yang dimiliki. Ia juga menyoroti fenomena anak muda yang mulai enggan menggunakan bahasa daerah karena dianggap kurang modern. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu awal hilangnya identitas budaya karena semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. “Kita boleh mengadopsi budaya global, tetapi tidak boleh melupakan ciri khas budaya kita sendiri,” ucap Eni.

Di era digital saat ini, media sosial dinilai memiliki dua sisi yang berbeda terhadap pelestarian budaya. Di satu sisi, platform digital dapat mempercepat masuknya budaya luar. Namun di sisi lain, media sosial juga menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Eni melihat peluang besar untuk memanfaatkan media sosial sebagai ruang kreatif yang menunjukkan bahwa budaya lokal dapat tampil menarik dan relevan dengan perkembangan zaman. “Budaya lokal juga bisa keren jika dikemas dengan cara yang sesuai dengan generasi muda saat ini,” kata Eni.

Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi konsumen tren global, tetapi juga mampu menjadi pelopor dalam menjaga dan mengembangkan budaya daerah. Menurutnya, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus tetap hidup di tengah perubahan zaman. Dengan mengenal, menggunakan, dan mempromosikan budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari, generasi muda dapat berperan menjaga keberlanjutan budaya sekaligus memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi yang terus berkembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....