Langkah Kecil Konsisten Kurangi Krisis Sampah Lingkungan
- 14 Jun 2026 20:53 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Permasalahan sampah menjadi tantangan yang semakin nyata di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Buleleng. Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bengkala yang telah mengalami kelebihan kapasitas menjadi salah satu indikator bahwa pengelolaan sampah harus segera diperbaiki. Dalam Obrolan SPADA yang menghadirkan Pebra dan Maharani dari Green Youth Bali pada Jumat, 12 Juni 2026, dibahas berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Menurut Maharani, salah satu kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah adalah mengubah pola pikir masyarakat. Banyak orang masih menganggap pengelolaan sampah sebagai pekerjaan yang rumit dan membebani. Padahal, perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Misalnya dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memilah sampah, serta mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. “Satu langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar bagi lingkungan,” ujar Maharani.
Pebra menambahkan bahwa sampah organik sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah kembali. Salah satu metode yang dapat diterapkan masyarakat adalah membuat ekoenzim dari sisa buah dan sayuran. Selain mudah dilakukan, metode ini juga membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Di samping itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan teknologi sederhana seperti biopori. Dengan membuat lubang resapan di halaman rumah dan mengisinya dengan sampah organik, proses penguraian dapat berlangsung secara alami sekaligus membantu menjaga ketersediaan air tanah.
Upaya pengelolaan sampah juga didukung melalui kebijakan yang diterapkan di Kabupaten Buleleng. Untuk mengurangi beban TPA Bengkala yang sudah overload, pemerintah menerapkan sistem pembuangan sampah berdasarkan tanggal. Pada tanggal ganjil, masyarakat diimbau membuang sampah organik, sedangkan pada tanggal genap diperuntukkan bagi sampah anorganik dan residu. Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemilahan sampah sekaligus memudahkan proses pengelolaan di tingkat akhir.
Selain itu, kedua narasumber menegaskan bahwa membuang sampah ke sungai maupun membakar sampah masih menjadi kebiasaan yang perlu ditinggalkan. Kedua tindakan tersebut justru menciptakan masalah lingkungan baru, mulai dari pencemaran air hingga polusi udara yang membahayakan kesehatan. “Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan kembali berdampak pada kehidupan manusia dan lingkungan sekitar,” kata Pebra. Oleh karena itu, mereka mengajak seluruh masyarakat untuk mulai bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Dengan kesadaran bersama dan langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, permasalahan sampah dapat dikurangi sehingga tercipta lingkungan yang lebih sehat dan nyaman untuk semua.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....