Harga Oli dan Spare Part Naik, Penjualan Toko di Jembrana Menurun

  • 11 Jun 2026 07:23 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Negara – Kenaikan harga oli dan suku cadang kendaraan bermotor dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak pada pelaku usaha spare part di Kabupaten Jembrana. Selain dipengaruhi penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, terbatasnya pasokan barang impor turut mendorong kenaikan harga dan menekan daya beli masyarakat.

Pemilik Toko Garuda Mas di Jembrana, Roy, mengatakan lonjakan harga paling besar terjadi pada produk oli. Dalam dua bulan terakhir, harga oli tercatat naik antara 30 hingga 50 persen, bergantung pada merek dan jenisnya.

“Kenaikan yang paling terasa ada pada oli. Ada yang naik 25 persen, 30 persen, bahkan lebih dari itu. Dampaknya sangat besar,” kata Roy, Rabu 10 Juni 2026.

Menurut Roy, selain faktor kurs dolar, kebijakan pembatasan impor juga berpengaruh terhadap ketersediaan barang di pasaran. Berkurangnya pasokan menyebabkan sejumlah produk menjadi langka dan memicu kenaikan harga dari distributor maupun pemasok.

“Saya mendapat informasi dari importir bahwa pembatasan impor membuat barang menjadi langka. Ketika barang langka, harga jadi naik karena pasokan terbatas. Padahal kenyataannya kita masih sangat bergantung pada barang impor,” ujarnya.

Roy menuturkan kondisi tersebut telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Selama lebih dari 25 tahun menjalankan usaha spare part di Bali, ia menilai kenaikan harga kali ini termasuk yang paling berat.

Dampak kenaikan harga juga terlihat dari perubahan perilaku konsumen. Jika sebelumnya pelanggan lebih memilih produk original dan berkualitas tinggi, kini banyak yang beralih ke alternatif dengan harga lebih terjangkau.

“Biasanya pelanggan mencari barang yang terbaik. Sekarang mereka lebih sering bertanya apakah ada yang lebih murah. Meski sudah dijelaskan kualitas dan daya tahannya berbeda, yang penting kendaraan bisa dipakai,” ungkapnya.

Tak hanya itu, masyarakat kini cenderung memperbaiki komponen yang rusak dibanding membeli suku cadang baru. Kondisi tersebut membuat omzet penjualan toko mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

“Pendapatan menurun drastis. Ini sudah terjadi sekitar dua sampai tiga bulan terakhir,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan pemilik Toko Eka Jaya, Eka. Ia menyebut harga oli telah mengalami kenaikan hingga tiga kali dalam beberapa bulan terakhir dengan penyesuaian sekitar Rp10.000 hingga Rp12.000 per botol.

“Harga oli sudah naik tiga kali. Kenaikannya sekitar Rp10 ribu sampai Rp12 ribu per botol. Untuk spare part juga ada kenaikan, tetapi tidak sebesar oli,” ujar Eka.

Ia menjelaskan kenaikan harga oli dipengaruhi meningkatnya harga bahan baku impor, seperti base oil sebagai bahan dasar pelumas dan bahan plastik untuk kemasan. Fluktuasi nilai tukar dolar juga turut mendorong biaya produksi.

“Base oil dan bahan baku plastik sebagian besar impor. Karena itu ketika dolar naik, harga oli ikut terdorong naik,” jelasnya.

Eka mengaku telah menerima informasi dari distributor terkait potensi kenaikan harga oli kembali pada pertengahan Juni 2026.

“Informasinya sekitar tanggal 15 sampai 17 Juni harga oli akan naik lagi,” katanya.

Sementara itu, kenaikan harga suku cadang dinilai lebih banyak dipicu oleh meningkatnya biaya distribusi dan transportasi. Meski tidak setinggi oli, hampir seluruh komponen kendaraan, termasuk aki dan ban, mengalami penyesuaian harga.

Menurut Eka, lonjakan harga tersebut berdampak langsung terhadap penjualan. Menurunnya daya beli masyarakat membuat volume penjualan merosot dibandingkan periode sebelumnya.

“Penjualan jelas terpengaruh. Setelah harga-harga naik, penjualan jauh merosot dibanding sebelumnya,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....