Pers Jadi Garda Terdepan Melawan Hoaks di Tengah Derasnya Arus Informasi Digital
- 07 Jun 2026 08:32 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Di tengah derasnya arus informasi yang beredar melalui media digital dan media sosial, peran pers sebagai penyedia informasi yang akurat dan terpercaya menjadi semakin penting. Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Buleleng, Francelino Xavier Ximenes Freitas, mengatakan bahwa pers memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat telah melalui proses verifikasi yang ketat dan berdasarkan fakta.
Menurutnya, pers Indonesia memiliki karakter berbeda dibandingkan dengan pers di negara-negara liberal karena lahir dan berkembang sebagai bagian dari perjuangan bangsa.
“Setiap informasi atau berita yang kita sampaikan kepada publik harus benar-benar akurat, terverifikasi, dan berdasarkan fakta. Informasi yang disampaikan harus bisa dipercaya masyarakat serta mampu membangun citra positif di tengah kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi digital memang memberikan banyak kemudahan bagi insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga memunculkan tantangan berupa maraknya penyebaran hoaks yang sebagian besar beredar melalui media sosial.
Menurut Francelino, tidak sedikit masyarakat yang langsung mempercayai informasi yang muncul di media sosial tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut terhadap sumber maupun kebenarannya. Padahal, media arus utama harus melalui tahapan pengumpulan data, verifikasi, konfirmasi kepada narasumber, hingga proses penyuntingan sebelum sebuah berita dipublikasikan.
“Kadang-kadang media mainstream dianggap terlambat memberitakan suatu peristiwa. Padahal kami harus memastikan data yang diperoleh benar, memiliki narasumber yang jelas, dan telah melalui proses verifikasi sebelum dipublikasikan,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dalam mengenali ciri-ciri berita hoaks. Salah satunya adalah penggunaan judul yang sensasional dan provokatif, sumber informasi yang tidak jelas, tidak adanya data pendukung yang kuat, serta penggunaan foto atau video yang tidak sesuai dengan konteks sebenarnya.
Selain itu, berita hoaks kerap disertai ajakan untuk menyebarluaskan informasi secara masif tanpa adanya verifikasi terlebih dahulu.
Sebaliknya, berita yang benar umumnya berasal dari media yang memiliki redaksi jelas, mencantumkan identitas narasumber, menerapkan prinsip jurnalistik 5W+1H, serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum maupun etik.
Francelino menegaskan bahwa upaya melawan hoaks bukan hanya menjadi tugas pers semata, melainkan tanggung jawab bersama antara media, pemerintah, dan masyarakat.
Ia berharap masyarakat semakin kritis dalam mengonsumsi informasi dan membiasakan diri melakukan pengecekan silang terhadap berita yang diterima.
“Kepercayaan publik tidak dibangun oleh kecepatan informasi, tetapi oleh konsistensi menghadirkan kebenaran,” katanya.
Melalui kolaborasi seluruh pihak, diharapkan ruang gerak penyebaran hoaks dapat semakin dipersempit sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar, berkualitas, dan mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....