Dialog Kebangsaan Singgung Potensi Buleleng yang Dinilai Belum Maksimal
- 01 Jun 2026 17:37 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Potensi besar yang dimiliki Kabupaten Buleleng kembali menjadi bahan diskusi dalam Dialog Kebangsaan yang mempertemukan unsur jurnalis, tokoh masyarakat, NGO, dan mahasiswa di Warung Bali Lalah, Jalan Yudistira I, Singaraja, Minggu 31 Mei 2026. Dalam forum tersebut, sejumlah peserta menyoroti berbagai keunggulan daerah yang dinilai belum sepenuhnya mampu mendorong percepatan pembangunan seperti yang terjadi di wilayah Bali selatan.
Dialog yang mengangkat tema “Memaknai Hari Raya Idul Adha dan Waisak dalam Bingkai Persatuan dan Kebhinekaan” itu menghadirkan tokoh masyarakat Dr. dr. Ketut Putra Sedana dari Puskor Hindunesia Korda Buleleng dan Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Buleleng, Francelino XXF. Diskusi berlangsung terbuka dengan membahas isu kebangsaan, pembangunan daerah, serta peran masyarakat sipil dalam mengawal kebijakan publik.
Dalam pemaparannya, Francelino XXF yang dikenal sebagai jurnalis senior menekankan pentingnya menjaga ruang demokrasi melalui kritik yang konstruktif. Menurutnya, peran pers, NGO, dan mahasiswa tetap dibutuhkan sebagai bagian dari kontrol sosial untuk mendorong pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.
“Pers, NGO dan Mahasiswa harus tetap kritis independen dan tidak gentar dalam segala bentuk intimidasi dalam upaya membangunan daerah bangsa dan negara,” ujarnya.
Francelino juga mengingatkan agar sikap kritis tetap dijalankan dalam koridor yang positif. Ia berharap mahasiswa dan jurnalis terus menjadi mitra masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan serta mendorong pemerintah daerah lebih fokus pada program-program yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan warga.
Sementara itu, Dr. dr. Ketut Putra Sedana mengapresiasi terselenggaranya forum dialog yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, ruang diskusi seperti ini penting untuk memperkuat komunikasi dan menyatukan pandangan dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan daerah.
“Tradisi moderasi suasana kebathinan harus terus ditumbuh kembangkan. Nuansa perbedaan yang asa harus disatukan untuk tujuan yang lebih baik,” ucapnya mengawali diskusi.
Dalam kesempatan tersebut, Ketut Putra Sedana juga menyoroti kondisi kehidupan berbangsa yang dinilainya rentan terpengaruh misinformasi. Karena itu, ia menegaskan pentingnya peran jurnalis dalam menyajikan informasi yang independen, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
“Saya pribadi dan atas nama Puskorhindunesia menyampaikan terimakasih kepada jurnalis, NGO dan mahasiswa yang sudah membuka ruang ruang positif dalam kebersamaan. Semoga kerjasama ini senantiasa berjalan bukan hanya hari ini tapi terus berkelanjutan,” katanya.
Sorotan mengenai perkembangan Buleleng muncul saat sesi tanya jawab. Muhammad Fikhi, Sekretaris Umum HMI Cabang Singaraja, mempertanyakan mengapa Buleleng dinilai masih tertinggal dibandingkan sejumlah wilayah di Bali selatan meskipun memiliki potensi yang tidak kalah besar. Menanggapi hal itu, Ketut Putra Sedana mengaku memiliki keprihatinan yang sama.
Menurutnya, Buleleng memiliki sumber daya alam yang melimpah, potensi kelautan yang besar, sumber daya manusia yang berkualitas, serta banyak tokoh asal Buleleng yang menduduki posisi strategis di tingkat provinsi maupun nasional. Selain itu, sektor pariwisata juga dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
“Harapan kita semua bahwa dengan segala potensi SDA dan SDM tersebut betul betul harus disatukan dengan tujuan agar Buleleng bangkit dan menjadi yang terbaik,” ucapnya.
Pandangan serupa juga disampaikan perwakilan mahasiswa dari GMKI Buleleng yang mendorong para tokoh dan kalangan intelektual lebih dekat dengan generasi muda. Menurut mereka, kolaborasi yang lebih kuat antara mahasiswa dan para pemangku kepentingan dapat menjadi salah satu langkah untuk mempercepat kemajuan daerah.
Komite KPK Wilayah Bali Ketut Suartika dan Ketua Lentera Bali Dwipa Ki Guru Karjana turut menyampaikan pentingnya menjaga ruang dialog yang terbuka dan konstruktif. Mereka menilai budaya diskusi perlu terus dirawat agar masyarakat memiliki wadah untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan solusi bagi pembangunan daerah.
“Kita harus menyadari juga Buleleng adalah simbol moderinasasi, kemajuan berpikir dan simbol independensi dalam pergerakan bagaimana dulu pasca 98 Buleleng banyak mengalami masa masa sulit dan penuh dinamika, saya beberapa kali dalam kondisi kritis ketika menyuarakan kasus kasus korupsi di Buleleng, dan kita harus berani dibarisan intelektual mengkritisi setiap ketidak adilan,” ucapnya.
Kegiatan ditutup dengan penyampaian apresiasi dari Ketua Panitia TASLIM, Zulkipli, kepada seluruh pembicara, peserta, dan pihak yang mendukung terselenggaranya dialog kebangsaan tersebut. Forum itu diharapkan menjadi awal dari diskusi-diskusi lanjutan yang dapat memperkuat kolaborasi lintas elemen masyarakat dalam mendorong kemajuan Buleleng di masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....