Udara Dingin Menusuk, Warga Keluhkan Air Seperti Es hingga Minyak Membeku
- 30 Mei 2026 12:04 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Fenomena suhu udara yang terasa lebih dingin mulai dirasakan warga di kawasan dataran tinggi Bali Utara dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini disebut lazim terjadi saat puncak musim kemarau pada periode Juni hingga Agustus.
Prakirawan BBMKG Wilayah III, Brian Eko Permadi menjelaskan, suhu dingin dipengaruhi gerak semu tahunan matahari dan aktifnya Monsun Australia.
“Pada periode ini posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU), sehingga terjadi defisit penyinaran matahari untuk wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa seperti Bali dan sekitarnya,” ujarnya kepada RRI pada Sabtu, 30 Mei 2026 pagi.
Ia mengatakan, Benua Australia saat ini sedang mengalami musim dingin dengan tekanan udara relatif tinggi. Kondisi tersebut memicu pergerakan massa udara dingin dari Australia menuju Indonesia, termasuk melewati wilayah Bali.
Selain itu, langit yang cenderung cerah dengan sedikit tutupan awan membuat panas hasil radiasi matahari lebih cepat dilepas ke atmosfer. Akibatnya, suhu udara di dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari.
Sementara itu, sejumlah warga mengaku suhu dingin kali ini terasa lebih menusuk dibanding biasanya. Rani, seorang staf di salah satu objek wisata kawasan Danau Buyan, mengatakan perubahan suhu mulai dirasakan dalam tiga hari terakhir.
“Minggu lalu masih ada turun hujan, masih agak hangat, tidak sedingin tiga hari ini,” katanya.
Ia mengaku mengalami beberapa kendala saat bekerja di dapur. Air keran disebut terasa sangat dingin seperti air es. Bahkan minyak goreng sempat membeku meski tidak disimpan di lemari pendingin.
Hal serupa dirasakan wisatawan yang menginap di kawasan pegunungan. Suhu dingin mencapai 16 derajat celcius pada malam hari membuat sebagian besar pengunjung memilih tetap berada di dalam kamar dan meminta tambahan selimut. Bahkan saat dini hari tadi suhu mencapai 13 derajat celcius.
“Biasanya jam 10 sampai 12 malam masih ada (tamu) yang menyalakan api unggun atau barbekiuan. Semalam jam 9 sudah pada masuk kamar, tidak ada yang beli kayu bakar,” ujar Ary, staf yang bertugas pada shift malam.
BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang beraktivitas di kawasan dataran tinggi, untuk menjaga kondisi tubuh dan menggunakan pakaian hangat saat malam hingga pagi hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....