Etika Berbusana ke Pura Cerminkan Kesucian Perempuan Hindu
- 28 Mei 2026 15:34 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Etika berpakaian bagi perempuan Hindu saat datang ke pura bukan hanya sekadar soal penampilan, melainkan bagian dari penghormatan terhadap kesucian diri dan Tuhan. Dalam obrolan SPADA belum lama ini, Penyuluh Agama Hindu Irma Susanthi menjelaskan bahwa cara berbusana ke pura memiliki filosofi mendalam yang berkaitan dengan ajaran Hindu. Ia menegaskan bahwa tubuh manusia merupakan tempat bersemayamnya Sang Atma sehingga wajib dijaga dan dimuliakan melalui tata busana yang sopan, bersih, dan sesuai etika. Kesadaran ini penting terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah perkembangan tren fashion modern.
Irma Susanthi menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu terdapat konsep Tri Angga yang menjadi dasar etika berpakaian. Konsep ini membagi tubuh menjadi tiga bagian, yakni Dewa Angga, Manusa Angga, dan Buta Angga. Pada bagian Dewa Angga atau bagian atas tubuh, perempuan Hindu dianjurkan menata rambut dengan rapi sebagai simbol penghormatan dan kesopanan. “Menata rambut dengan baik saat ke pura merupakan bentuk penghormatan terhadap kesucian diri,” ujar Irma Susanthi. Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan pusung gonjer bagi perempuan belum menikah dan pusung tagel bagi yang sudah menikah menjadi bagian dari identitas dan etika dalam berbusana adat ke pura.
Sementara pada bagian Manusa Angga atau tubuh bagian tengah, perempuan Hindu dianjurkan menggunakan pakaian yang sopan, bersih, serta tidak transparan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan ketika menghadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Menurut Irma Susanthi, pakaian ke pura seharusnya tidak dijadikan ajang pamer penampilan ataupun mengikuti tren semata. “Berbusana ke pura bukan fashion show, tetapi proses menyatukan pikiran dan jiwa saat menghadap Tuhan,” ucap Irma Susanthi. Ia menambahkan bahwa konsep berpakaian tersebut juga selaras dengan ajaran Satyam Siwam Sundaram yang mengandung nilai kebenaran, kesucian, dan keindahan dalam kehidupan umat Hindu.
Pada bagian Buta Angga atau tubuh bagian bawah, penggunaan kamen memiliki makna penting untuk mengendalikan energi diri. Pemakaian kain yang tepat menjadi simbol pengendalian sikap dan penghormatan terhadap tempat suci. Selain itu, Irma Susanthi juga menjelaskan filosofi warna dalam berbusana ke pura. Warna putih dan kuning sangat dianjurkan karena melambangkan kesucian dan keberkahan. Warna putih identik dengan Dewa Siwa sebagai simbol kesucian, sedangkan warna kuning melambangkan amerta atau kemakmuran spiritual. Oleh sebab itu, pemilihan warna pakaian juga menjadi bagian dari etika dan spiritualitas umat Hindu saat bersembahyang.
Melalui obrolan tersebut, Irma Susanthi turut mengingatkan generasi muda, khususnya Gen-Z, agar mengubah pola pikir mengenai tujuan berpakaian ke pura. Menurutnya, perempuan Hindu tidak perlu berlomba-lomba tampil demi mendapatkan pujian orang lain, melainkan menjadikan busana adat sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan yang ada dalam diri sendiri. Nilai Brahman Atman Aikiam menjadi pengingat bahwa Tuhan berada dalam setiap manusia sehingga sikap dan cara berpakaian harus mencerminkan kesucian hati. Dengan memahami filosofi tersebut, etika berbusana ke pura diharapkan tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga kesadaran spiritual yang terus dijaga oleh generasi muda Hindu di tengah perkembangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....