Konten Budaya Kreatif Dinilai Dekatkan Generasi Muda Sekarang
- 27 Mei 2026 15:30 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Konten budaya di media sosial dinilai perlu dikemas dengan cara yang lebih kreatif agar mampu menarik perhatian generasi muda. Hal tersebut disampaikan oleh Juli Arita selaku Anggota KNPI Buleleng saat mengisi Obrolan Spada belum lama ini. Dalam pembahasannya, ia menjelaskan perkembangan media sosial membuat pola konsumsi informasi anak muda berubah menjadi lebih cepat dan visual. Karena itu, penyampaian konten budaya tidak bisa lagi dilakukan dengan cara yang terlalu formal atau kaku apabila ingin diterima oleh generasi Z maupun milenial. Menurutnya, budaya lokal tetap bisa terlihat menarik apabila dipadukan dengan pendekatan modern yang relevan dengan kehidupan anak muda saat ini.
Juli Arita mengatakan salah satu cara yang dapat dilakukan yakni dengan menggunakan bahasa yang lebih santai dan mudah dipahami dalam pembuatan konten budaya. Selain itu, unsur tradisional juga dapat dipadukan dengan gaya modern agar tidak terkesan jadul. Ia mencontohkan penggunaan kain tenun atau batik yang dipadukan dengan pakaian sehari-hari maupun fashion modern sehingga budaya lokal terasa lebih dekat dengan generasi muda. Menurutnya, pendekatan seperti itu dapat membantu menghilangkan rasa malu sebagian anak muda terhadap budaya sendiri yang selama ini dianggap kurang keren dibandingkan budaya luar. “Budaya lokal sebenarnya bisa terlihat keren kalau dikemas dengan cara yang kreatif dan relevan dengan anak muda sekarang,” ujar Juli Arita.
Ia menjelaskan kreativitas dalam menentukan sudut pandang konten juga menjadi hal penting agar budaya lokal terasa lebih hidup. Salah satu strategi yang dapat dilakukan yakni mengangkat sisi budaya yang unik dan belum banyak diketahui masyarakat luas. Dengan cara tersebut, penonton akan merasa penasaran dan terdorong mencari informasi lebih dalam mengenai budaya yang ditampilkan. Selain itu, visual yang menarik di awal video juga dinilai sangat penting untuk menangkap perhatian pengguna media sosial yang cenderung memiliki waktu menonton singkat. Menurut Juli Arita, penggunaan bahasa daerah secara kreatif juga dapat menjadi daya tarik tersendiri tanpa membuat konten terasa kuno atau tertinggal zaman.
Dalam kesempatan tersebut, Juli Arita juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menjaga identitas budaya generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, orang tua menjadi benteng pertama dalam memperkenalkan nilai budaya lokal kepada anak sejak dini, mulai dari bahasa daerah, tradisi, hingga nilai-nilai kehidupan. Ia menilai pendidikan budaya di rumah sangat penting agar anak tidak tumbuh dengan anggapan bahwa budaya sendiri adalah sesuatu yang aneh atau memalukan. Selain itu, orang tua juga diharapkan mampu menjadi teman diskusi bagi anak untuk membantu menyaring pengaruh budaya luar maupun informasi negatif yang beredar di media sosial. “Kalau pendidikan budaya sudah kuat dari rumah, anak akan lebih percaya diri dengan identitas budayanya sendiri,” ucap Juli Arita.
Ia berharap generasi muda dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana memperkenalkan budaya lokal dengan cara yang lebih kreatif dan inovatif. Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya tidak menjadi ancaman bagi budaya daerah, tetapi justru peluang untuk memperluas pengenalan budaya kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan dukungan keluarga dan kreativitas generasi muda dalam membuat konten, budaya lokal dinilai akan tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman digital yang terus berubah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....