Generasi Muda Diajak Jaga Identitas Bangsa Melalui Media
- 27 Mei 2026 15:28 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Media sosial dinilai memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan identitas generasi muda di era digital saat ini. Hal tersebut disampaikan oleh Juli Arita selaku Anggota KNPI Buleleng saat mengisi Obrolan Spada belum lama ini. Dalam pembahasannya, ia menjelaskan media sosial memiliki dampak ganda terhadap kehidupan anak muda. Di satu sisi, platform digital dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas hingga mancanegara. Namun di sisi lain, media sosial juga mempercepat masuknya budaya asing yang secara perlahan dapat membuat generasi muda melupakan identitas budayanya sendiri apabila tidak disikapi dengan bijak.
Juli Arita mengatakan tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini terlihat dari perubahan pola bahasa dan gaya hidup. Banyak anak muda dinilai lebih akrab menggunakan bahasa slang maupun istilah asing dibandingkan bahasa daerah seperti bahasa Bali halus. Selain itu, tren fashion luar negeri seperti Korea maupun Barat juga semakin mendominasi gaya berpakaian generasi muda. Menurutnya, kondisi tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya salah, namun perlu diimbangi dengan rasa bangga terhadap budaya lokal agar identitas daerah tetap terjaga di tengah perkembangan globalisasi. “Media sosial itu fifty-fifty, bisa membantu mengenalkan budaya lokal, tetapi juga bisa membuat anak muda perlahan melupakan budayanya sendiri,” ujar Juli Arita.
Ia menjelaskan media sosial juga sering memunculkan polarisasi dan perdebatan yang dapat mengikis nilai persatuan bangsa. Fenomena saling menghujat di kolom komentar maupun penyebaran konten negatif dinilai menjadi tantangan baru dalam kehidupan digital generasi muda. Selain itu, masih ada sebagian anak muda yang merasa malu menggunakan atribut budaya lokal karena dianggap tidak modern atau kurang keren dibandingkan budaya luar. Menurut Juli Arita, pola pikir seperti itu perlu diubah melalui edukasi dan pendekatan kreatif agar budaya lokal dapat tampil lebih relevan dengan kehidupan anak muda masa kini.
Sebagai solusi, Juli Arita mengajak generasi muda untuk aktif membuat konten kreatif yang memadukan unsur budaya lokal dengan tren modern di media sosial. Salah satu contohnya yakni memperkenalkan fashion berbahan kain tenun atau batik dengan konsep yang lebih kekinian agar menarik perhatian generasi muda. Selain itu, anak muda juga didorong untuk memperdalam literasi budaya sehingga lebih memahami nilai dan makna dari budaya daerahnya sendiri. Dengan pemahaman tersebut, generasi muda diharapkan tidak mudah terpengaruh budaya luar tanpa melakukan penyaringan sesuai nilai lokal yang dimiliki. “Anak muda boleh mengikuti tren global, tetapi tetap harus punya kebanggaan terhadap budaya sendiri,” ucap Juli Arita.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjadi pengguna media sosial yang bijak dengan menghargai konten budaya dan tidak ikut menyebarkan komentar negatif yang merendahkan bangsa sendiri. Menurutnya, media sosial pada dasarnya hanyalah alat yang penggunaannya kembali bergantung pada individu masing-masing. Karena itu, identitas keindonesiaan akan tetap kuat apabila generasi muda mampu memanfaatkan media sosial untuk hal positif tanpa kehilangan jati diri budaya lokalnya. Juli Arita berharap anak muda dapat menjadi generasi yang terbuka terhadap perkembangan global, namun tetap memiliki rasa cinta dan kepedulian terhadap budaya daerah maupun identitas bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....