Mengalah Jadi Bentuk Pengendalian Diri Anak Muda
- 27 Mei 2026 15:26 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Mengalah dalam kehidupan sehari-hari sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan oleh sebagian generasi muda. Namun, pandangan tersebut dinilai kurang tepat dalam ajaran Hindu. Hal itu disampaikan oleh Sri Handayani selaku Penyuluh Agama Hindu saat mengisi Obrolan Spada belum lama ini. Ia menjelaskan bahwa mengalah bukan berarti kalah atau tidak memiliki pendirian, melainkan bentuk pengendalian diri atau mulat sarira demi menjaga keharmonisan dalam hubungan sosial, keluarga, maupun pertemanan. Menurutnya, keputusan untuk mengalah dapat menjadi tindakan bijaksana selama dilakukan untuk menghindari pertengkaran yang tidak perlu dan menjaga kedamaian bersama.
Sri Handayani menjelaskan dalam kehidupan modern saat ini, tantangan terbesar generasi muda adalah mengendalikan ego dan emosi ketika menghadapi perbedaan pendapat atau provokasi dari orang lain. Ia mengatakan banyak orang menganggap marah dan meluapkan emosi sebagai bentuk keberanian, padahal kondisi tersebut justru menunjukkan seseorang belum mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dalam ajaran Hindu, pengendalian diri terhadap amarah atau kroda termasuk bagian dari konsep Sad Ripu, yakni enam musuh dalam diri manusia yang harus dikendalikan. “Orang yang mampu menahan amarah dan tetap tenang justru adalah orang yang hebat, bukan lemah,” ujar Sri Handayani.
Menurutnya, seseorang baru dianggap lemah apabila memilih diam ketika melihat ketidakbenaran, ketidakadilan, atau adharma hanya karena takut menyuarakan kebenaran. Karena itu, mengalah yang sehat harus dipahami sebagai keputusan sadar untuk menjaga kedamaian, bukan karena takut atau tidak memiliki keberanian. Ia menilai penting bagi generasi muda untuk memahami perbedaan antara mengalah demi keharmonisan dan diam terhadap tindakan yang salah. Dengan pemahaman tersebut, anak muda diharapkan mampu bersikap lebih bijak dalam menghadapi konflik di lingkungan sosial maupun media digital yang sering memicu perdebatan emosional.
Selain mengendalikan emosi, Sri Handayani juga menekankan pentingnya keberanian meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Menurutnya, meminta maaf bukan tanda kelemahan, melainkan cerminan kedewasaan dan jiwa besar seseorang dalam menjaga hubungan baik dengan orang lain. Kebiasaan meminta maaf dinilai perlu ditanamkan sejak dini melalui lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat agar menjadi karakter positif generasi muda. Dengan meminta maaf, hubungan yang sempat renggang dapat dipulihkan dan suasana damai dapat kembali tercipta di lingkungan sekitar. “Meminta maaf itu tidak merendahkan diri, justru menunjukkan seseorang mampu mengalahkan ego pribadinya,” ucap Sri Handayani.
Ia menambahkan ajaran Hindu juga mengajarkan bahwa setiap perbuatan baik akan memberikan hasil yang baik melalui hukum karma. Karena itu, generasi muda tidak perlu takut dianggap lemah ketika memilih bersabar atau mengalah demi menjaga kedamaian. Menurutnya, fokus utama seharusnya tetap pada perbuatan baik dan pengendalian diri, sebab hasil dari kebaikan tidak akan pernah membawa dampak negatif. Sri Handayani berharap anak muda mampu menjadikan nilai-nilai pengendalian diri sebagai bekal penting dalam menghadapi kehidupan sosial di era modern yang penuh tekanan dan konflik emosional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....