Media Sosial Jadi Cara Promosi Wisata Sejarah yang Lebih Relevan bagi Anak Muda

  • 26 Mei 2026 21:13 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Pemanfaatan media sosial dinilai menjadi salah satu strategi efektif dalam memperkenalkan wisata sejarah kepada generasi muda. Hal tersebut disampaikan oleh Dewa Made Kresna Dana Artha saat menjadi narasumber dalam program Obrolan Spada beberapa waktu lalu. Ia mengatakan perkembangan teknologi digital saat ini perlu dimanfaatkan untuk memperkenalkan nilai sejarah daerah dengan cara yang lebih relevan dan dekat dengan kehidupan anak muda. Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana edukasi yang efektif apabila digunakan untuk menyebarkan informasi sejarah secara kreatif dan menarik.

Ia menjelaskan selama ini wisata sejarah sering kalah populer dibandingkan konten wisata modern seperti coffee shop, pantai, maupun tempat hiburan kekinian yang banyak muncul di media sosial. Kondisi tersebut membuat sejumlah destinasi sejarah di Buleleng seperti Gedung Kirtya dan Pelabuhan Tua Buleleng kurang mendapat perhatian dari generasi muda. Selain itu, minimnya literasi mengenai sejarah lokal juga menyebabkan banyak masyarakat belum memahami pentingnya situs sejarah sebagai bagian dari identitas budaya daerah. “Konten sejarah sering dianggap kurang menarik dibandingkan tren wisata modern yang sedang populer,” ujar Dewa Made.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam promosi wisata sejarah adalah membuat konten edukatif yang tetap fun dan engaging bagi anak muda. Meskipun sudah banyak konten sejarah dibuat melalui platform Instagram maupun TikTok, peminatnya masih tergolong sedikit dibandingkan konten hiburan lainnya. Karena itu, diperlukan inovasi dalam penyajian informasi agar sejarah tidak lagi dianggap membosankan. Ia menilai generasi muda memiliki peran penting sebagai pencipta konten edukatif yang mampu memperkenalkan wisata sejarah dengan pendekatan yang lebih kreatif dan mudah dipahami masyarakat luas.

Selain melalui media sosial, terdapat pula rancangan penggunaan QR Code di sejumlah lokasi wisata sejarah untuk mempermudah pengunjung mengakses informasi melalui telepon genggam. Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebiasaan generasi muda yang sangat dekat dengan teknologi digital. Dengan adanya QR Code, pengunjung dapat mengetahui sejarah suatu tempat secara instan tanpa harus mencari informasi secara manual. “Teknologi bisa menjadi jembatan agar sejarah terasa lebih dekat dan mudah dipahami generasi muda,” ucap Dewa Made.

Ia berharap generasi muda dapat menjadi ujung tombak dalam menjaga dan mempromosikan wisata sejarah agar tidak tergerus arus modernisasi. Menurutnya, sejarah daerah merupakan identitas budaya yang harus dijaga bersama agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya. Dengan memanfaatkan media sosial dan teknologi secara positif, generasi muda dinilai mampu membuat wisata sejarah menjadi lebih menarik sekaligus tetap memiliki nilai edukasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....