Sawan Festival Jadi Ruang Budaya dan Penggerak UMKM Buleleng

  • 24 Mei 2026 09:03 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Festival kecamatan tidak lagi hanya dipandang sebagai agenda hiburan semata, namun berkembang menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Hal itu terlihat dalam pelaksanaan Sawan Festival 2026 yang digelar di Pantai Kerobokan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Jumat 22 Mei 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya daerah melalui kolaborasi seni, tradisi, dan pemberdayaan masyarakat.

Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna mengatakan pelaksanaan festival kecamatan merupakan gagasan Bupati Buleleng yang dirancang bukan hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Festival juga diharapkan mampu menjadi wadah bagi masyarakat menampilkan kreativitas serta mengembangkan potensi lokal yang dimiliki masing-masing wilayah. Menurutnya, pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat harus berjalan beriringan.

“Festival kecamatan bukan hanya panggung hiburan, tetapi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas, budaya, tradisi, sekaligus menggerakkan UMKM lokal. Ini merupakan gagasan Bupati Buleleng yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian seni dan budaya di Kabupaten Buleleng,” ujarnya.

Menurut Supriatna, Kecamatan Sawan selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kekuatan seni dan budaya di Kabupaten Buleleng. Berbagai warisan budaya tumbuh dan berkembang di wilayah tersebut, mulai dari seni tari, seni karawitan, hingga kerajinan gamelan khas Buleleng. Potensi inilah yang dinilai perlu terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Ia menjelaskan Desa Jagaraga selama ini dikenal sebagai salah satu ikon seni tari dan karawitan di Buleleng. Desa tersebut melahirkan Tari Teruna Jaya yang telah menjadi identitas budaya daerah serta berbagai karya seni lainnya yang dikenal luas masyarakat. Sementara Desa Sawan juga masih mempertahankan tradisi kerajinan gong dan gamelan khas Buleleng yang menjadi warisan budaya turun-temurun.

Sementara itu, I Ketut Cantyana menjelaskan Sawan Festival 2026 berlangsung selama tiga hari mulai 22 hingga 24 Mei 2026 dengan mengangkat tema Mangghosanaken Budaya. Tema tersebut mengandung makna menjaga, melestarikan, dan mempertahankan adat, seni, serta budaya lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat.

“Tema Mangghosanaken Budaya bermakna melestarikan, menjaga, dan mempertahankan adat, seni, serta budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat,” katanya.

Berbagai kegiatan turut ditampilkan dalam festival tersebut, mulai dari lomba penjor hias, parade gebogan, lomba nyurat aksara Bali, lomba menggambar dan mewarnai hingga pertunjukan kolaborasi seni. Salah satu penampilan yang menjadi perhatian masyarakat adalah kolaborasi Tari Teruna Jaya dari Desa Jagaraga dengan Legong Pengelep dari Desa Menyali. Beragam pertunjukan tersebut sekaligus menjadi ruang ekspresi generasi muda dalam menjaga warisan budaya daerah.

Tidak hanya menampilkan kesenian, festival juga dirangkaikan dengan kegiatan edukasi masyarakat mengenai kesehatan dan pengelolaan sampah berbasis sumber. Panitia bahkan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik di sejumlah titik area festival untuk menanamkan kebiasaan pengelolaan sampah yang baik. Langkah tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Sebanyak 14 desa di Kecamatan Sawan turut ambil bagian melalui keterlibatan pelaku usaha dan UMKM lokal yang meramaikan festival. Kehadiran UMKM dinilai memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat serta membuka peluang promosi produk lokal kepada pengunjung. Pemerintah Kabupaten Buleleng berharap festival semacam ini mampu memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat.

Tag Berita:

Kata Kunci Spesial:

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....