Misi Damai 58 Bhikkhu Berlanjut menuju Candi Borobudur
- 12 Mei 2026 05:13 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Negara : Sebanyak 58 Bhikkhu peserta perjalanan spiritual “Indonesia Walk for Peace” melanjutkan perjalanan dari Bali menuju Pulau Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk, Senin 11 Mei 2026. Kegiatan pelepasan berlangsung di Vihara Empu Astapaka, Gilimanuk, dengan suasana penuh khidmat dan nuansa persaudaraan lintas umat.
RRI.CO.ID, Negara : Sebanyak 58 Bhikkhu peserta perjalanan spiritual “Indonesia Walk for Peace” melanjutkan perjalanan dari Bali menuju Pulau Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk, Senin 11 Mei 2026. Kegiatan pelepasan berlangsung di Vihara Empu Astapaka, Gilimanuk, dengan suasana penuh khidmat dan nuansa persaudaraan lintas umat.
Rombongan Bhikkhu yang berasal dari berbagai negara tersebut menjalani perjalanan spiritual dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 666 kilometer. Perjalanan dimulai sejak 7 Mei 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 28 Mei 2026.
Kegiatan pelepasan turut dihadiri Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan. Ia mengapresiasi semangat para Bhikkhu yang tetap menjalani perjalanan dengan penuh kesederhanaan dan ketenangan batin di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
Menurutnya, perjalanan Thudong bukan sekadar perjalanan fisik, namun juga menjadi simbol pengendalian diri, disiplin, serta upaya menebarkan pesan damai kepada masyarakat.
“Perjalanan ini menjadi pengingat penting tentang nilai kesederhanaan, ketenangan, dan menjaga kedamaian hati di tengah dinamika kehidupan saat ini,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, para Bhikkhu selanjutnya menyeberangi Selat Bali menggunakan kapal feri menuju Pulau Jawa. Penyeberangan itu juga diisi dengan pembacaan doa dan mantra sebagai bagian dari rangkaian perjalanan spiritual.
Salah seorang bikkhu asal Thailand, Ajhran Prasan selama perjalanan dari Buleleng hingga ke Gilimanuk mendapat sambutan yang positif dari masyarakat. Ini merupakan awal perjalanan dengan berjalan kaki hingga beberapa hari ke depan.
Ketua Panitia Koordinator Daerah Bali, PMy. Sudiarta Indrajaya, mengatakan penyeberangan Selat Bali memiliki makna simbolis sebagai jembatan persaudaraan dan perdamaian antarwilayah.
Ia menyebut perjalanan Thudong membawa pesan universal tentang cinta kasih, toleransi, dan keharmonisan antarsesama tanpa memandang perbedaan latar belakang maupun tradisi.
“Perjalanan ini diharapkan mampu menghadirkan energi kedamaian serta mempererat persaudaraan antarmasyarakat,” kata Sudiarta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....