Revitalisasi Bahasa Bali Aga Pedawa Digaungkan Lewat Edukasi

  • 02 Mei 2026 09:37 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Sekolah Adat Manik Empul menggelar kegiatan revitalisasi bahasa dan sastra lisan Pedawa dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional sepanjang bulan Mei 2026. Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam menjaga eksistensi dialek Bali Aga Pedawa yang kian tergerus perkembangan zaman. Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen masyarakat adat dalam melestarikan warisan budaya lokal.

Ketua Sekolah Adat Manik Empul Desa Pedawa, I Wayan Sadyana menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat keberadaan dialek Bali Aga Pedawa sebagai bagian dari kekayaan bahasa Bali. Ia menekankan bahwa bahasa Bali tidak hanya terbatas pada dialek dataran, tetapi juga memiliki ragam dialek yang harus dijaga keberlangsungannya. “Kami bertujuan untuk memperkenalkan atau memperkuat keberadaan dialek Bali Aga Pedawa itu sebagai salah satu kekayaan bahasa Bali,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini dialek Bali Aga Pedawa menghadapi ancaman serius akibat minimnya penggunaan di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menyebabkan hilangnya identitas budaya jika tidak segera ditangani. “Sekarang ini dialek Bali Aga itu menghadapi tantangan serius yang sangat luar biasa dan kemungkinan bisa hilang ke depannya, jadi kami tidak mau kebudayaan kami hilang,” katanya.

Sebagai langkah konkret, revitalisasi dilakukan melalui berbagai kegiatan edukatif yang menyasar berbagai kelompok usia. Program ini dilaksanakan secara berkelanjutan selama bulan Mei dengan melibatkan anak-anak, remaja, hingga masyarakat umum. “Revitalisasi sastra dan bahasa ini dilakukan dalam berbagai kegiatan selama bulan Mei ini dengan beberapa bentuk kegiatan,” ucapnya.

Kegiatan pertama yang dilaksanakan adalah pelatihan mesatua atau bercerita menggunakan bahasa Pedawa. Cerita-cerita yang digunakan merupakan hasil revitalisasi yang telah dikembangkan oleh Sekolah Adat Manik Empul bersama berbagai pihak. “Satua-satua Pedawa ini kami diseminasikan kepada anak-anak agar mereka mengenal kembali bahasa daerahnya,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan puisi juga menjadi salah satu media ekspresi yang diperkenalkan kepada peserta. Melalui puisi, bahasa Pedawa ditunjukkan memiliki kekayaan makna dan keindahan bahasa yang mendalam. “Bahasa Pedawa itu juga bisa dipergunakan untuk mengekspresikan berbagai hal seperti kegundahan hati, fenomena sosial, maupun keindahan alam,” katanya.

Tidak hanya itu, pendekatan kreatif juga dilakukan melalui kegiatan banyolan atau lawakan berbahasa Pedawa yang dikemas menyerupai stand up comedy. Metode ini dinilai efektif untuk menarik minat generasi muda agar lebih dekat dengan bahasa daerahnya. “Kami dekati anak-anak muda dengan banyolan agar mereka melihat bahwa bahasa kita juga bisa digunakan untuk hiburan,” ucapnya.

Kegiatan lainnya adalah pidato atau pidarta menggunakan bahasa Pedawa yang memiliki peran penting dalam kehidupan adat. Kemampuan berpidato ini sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan upacara dan pertemuan adat di desa. “Pidarte ini penting karena sering digunakan dalam berbagai kesempatan adat, sehingga perlu diajarkan kembali kepada generasi muda,” ujarnya.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Sekolah Adat Manik Empul berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian bahasa daerah semakin meningkat. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan mampu menghidupkan kembali penggunaan bahasa Pedawa dalam kehidupan sehari-hari. “Kami berharap seluruh masyarakat mulai menggunakan bahasa Pedawa dalam berbagai aktivitas agar budaya ini tetap hidup,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....