Aguron-guron Sistem Pendidikan Tradisional Pembentuk Karakter
- 02 Mei 2026 09:00 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Memperingati Hari Pendidikan Nasional, sistem pendidikan tradisional Aguron-guron kembali digaungkan, sebagai solusi mengatasi tantangan degradasi moral dan pembentuk karakter generasi bangsa.
Manggala Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha, Ida Bhawati Hermawan Tangkas menegaskan bahwa aguron-guron bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan intelektual, melainkan sebuah proses transformasi batin.
Hal ini didasarkan pada tiga pilar utama yakni: penekanan etika religius, hubungan kekeluargaan yang tulus antara guru dan murid, serta proses penyucian diri yang disiplin.
Lebih lanjut, Ida Bhawati menjelaskan bahwa sistem ini berpijak pada prinsip Guru Susrusa, yakni rasa hormat dan bakti yang tulus kepada guru.
Dalam pendidikan Hindu, keberhasilan seorang murid tidak hanya diukur dari angka di atas kertas, melainkan dari seberapa mampu ia mengamalkan ajaran Dharma dalam kehidupan bermasyarakat.
Penerapan Aguron-guron di era sekarang, dapat diintegrasikan melalui sistem Pendidikan pasraman. Hal itu memungkinkan interaksi antara guru dan siswa terjadi secara lebih personal dan mendalam.
Ida Bhawati juga menaruh harapan besar kepada para pendidik agar mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki Sradha (keyakinan) dan Bhakti (pengabdian) yang kuat.
"Lakukanlah proses pendidikan itu dengan ketulusan dan tidak transaksional layaknya pemberi dan penerima jasa. Pendidik harus senantiasa berusaha menjadi panutan dalam kehidupan, baik dari bicara maupun perilaku, sehingga memunculkan vibrasi positif yang dapat diteladani oleh para siswa," ujar Ida Bhawati Hermawan, melalui sambungan telepon, Sabtu, 2 Mei 2026.
Lebih lanjut, Ida Bhawati juga menegaskan bahwa tantangan moral saat ini seringkali berakar dari ketidakmampuan individu dalam mengendalikan pikiran.
Pengetahuan akademik yang tinggi tanpa kendali spiritual justru berisiko disalahgunakan. Oleh karena itu, penguatan karakter dengan landasan religius menjadi harga mati dalam kurikulum kehidupan.
"Utamakan pendidikan religius kepada anak didik, sehingga pengetahuan yang dimiliki mampu mengendalikan pikiran mereka ke arah yang lebih positif. Dengan landasan spiritual yang kokoh, generasi muda kita tidak hanya akan cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki benteng moral yang kuat dalam menghadapi pengaruh negatif zaman," ujar Ida Bhawati.
Melalui sistem Aguron-guron, hubungan antara Guru dan Sisya (murid) diharapkan menjadi ikatan spiritual yang mampu mencetak generasi cerdas, beradab, dan memiliki integritas tinggi.
Peringatan Hardiknas diharapkan mampu membawa semangat baru untuk mewujudkan generasi emas yang beradab dan berbudaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....