Sapsap atau Satsat Simbol Penyucian dan Kekuatan Magis
- 18 Apr 2026 19:53 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Dalam berbagai kegiatan upacara keagamaan di Bali, seringkali kita melihat jalinan janur yang terpasang pada bangunan, kendaraan, hingga senjata tajam.
Benda yang dikenal dengan nama Sapsap atau Sasat Ini menurut Jro Mangku Ketut Rupa, umumnya dibuat dari jahitan janur yang memiliki cabang satu atau dua, dengan hiasan berbentuk kolong pada bagian sisinya.
"Sapsap itu adalah penanda. Ketika benda atau bangunan sudah diisi Sapsap, itu artinya benda tersebut telah disucikan, memiliki nilai sakral, dan memiliki kekuatan magis," ujar Jro Mangku Ketut Rupa, Prajuru PHDI Kabupaten Buleleng Bidang Pendidikan Agama Hindu.
Lebih lanjut, Jro Mangku Ketut Rupa mengatakan Sapsap sering kali dialasi dengan daun dapdap (kayu sakti) dan diikat benang tiga warna (Tridatu).
Daun Dadap dalam tradisi masyarakat Hindu dipercaya memiliki fungsi sebagai penetralisir kekuatan negatif.
Sapsap atau Satsat biasanya digunakan saat upacara Melaspas bangunan atau pada hari suci Tumpek Landep.
Benda-benda seperti keris, tombak, pedang, hingga perabotan rumah tangga akan dipasangi Sapsap setelah melalui proses pembersihan atau Prayascita.
"Inti dari pemasangan Sapsap ini sebagai tanda bahwa benda tersebut sudah hidup secara spiritual dan bebas dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik," ujar Jro Mangku.
Selain itu Sapsap atau Satsat juga digunakan pada alat upacara seperti Sibuh (gayung tradisional dari batok kelapa sarana penyucian). Tangkai Sibuh yang akan digunakan dalam upacara biasanya diikatkan Sapsap sebagai tanda kesiapan alat tersebut dalam upacara.
Melalui pemahaman yang mendalam mengenai Sapsap, diharapkan umat juga memahami makna perlindungan dan kesucian yang terkandung di dalamnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....