Belajar Mencintai Diri Sendiri di Era Digital
- 15 Apr 2026 05:12 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja: Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, tantangan dalam mencintai diri sendiri semakin besar. Banyak orang, khususnya generasi muda, tanpa sadar terjebak dalam standar yang diciptakan oleh lingkungan dan media sosial. Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten Buleleng, Sri Handayani mengatakan bagaimana pentingnya membangun hubungan yang sehat dengan diri sendiri agar tidak mudah terpengaruh oleh tekanan eksternal.
Sri Handayani menjelaskan bahwa salah satu tanda seseorang belum menghargai dirinya adalah sering merasa minder dan membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini bisa terlihat dari pikiran-pikiran negatif seperti merasa kurang cantik, kurang pintar, atau kurang berhasil dibanding orang lain. Ia menambahkan bahwa kondisi ini bisa semakin parah dengan adanya media sosial yang menampilkan kehidupan orang lain secara sepintas terlihat sempurna. “Sering membandingkan diri dengan orang lain itu akan membuat kita menjadi kurang percaya diri,” ucapnya.
Dalam ajaran Hindu, konsep menghargai diri sendiri juga berkaitan erat dengan nilai spiritual, salah satunya adalah pemahaman tentang Atman sebagai percikan Tuhan dalam diri manusia. Dengan memahami bahwa diri kita adalah bagian dari Tuhan, maka menghargai diri sendiri juga berarti menghormati ciptaan-Nya. Sri Handayani menjelaskan bahwa jika seseorang tidak mampu mencintai dirinya sendiri, maka ia juga akan kesulitan mencintai orang lain. Oleh karena itu, proses ini menjadi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk menghadapi tekanan dari lingkungan, Sri Handayani menyarankan agar seseorang mulai mengenali dirinya sendiri. Mengenali kemampuan, menerima kekurangan, serta tidak memaksakan standar yang terlalu tinggi menjadi langkah awal yang penting. Selain itu, keberanian untuk berkata “tidak” juga menjadi bagian dari menghargai diri. Banyak orang yang merasa tidak enakan hingga akhirnya mengorbankan diri sendiri. Padahal, menurutnya, hal tersebut justru menunjukkan bahwa seseorang belum benar-benar mencintai dirinya.
Pada akhirnya, mencintai diri sendiri bukan berarti menjadi egois, melainkan memahami batasan dan kebutuhan diri. Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan latihan yang konsisten. Sri Handayani menegaskan bahwa dengan membangun afirmasi positif dan rasa syukur, seseorang bisa perlahan keluar dari pikiran negatif. “Kuncinya sih bersyukur ya, mengenali diri kita,” ujarnya. Dari situlah, seseorang bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, percaya diri, dan mampu menjalani hidup dengan lebih ringan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....