Pengayah Milenial Panggilan Suci di tengah Arus Modernisasi
- 09 Apr 2026 15:15 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Kewajiban Ngiring dan Ngayah sebagai pelayan umat atau menjadi seorang Pinandita, biasanya identik dengan sosok tetua atau mereka yang sudah pensiun, kini mulai banyak diemban oleh generasi muda usia produktif. Keputusan menjadi pengayah (pelayan umat) di usia muda bukanlah hal yang mudah karena dituntut mampu menyeimbangkan antara kewajiban spiritual (dharma) dan tuntutan hidup di era modern. Keputusan untuk ngiring atau melayani umat sering kali datang karena perpaduan antara garis keturunan (sesuunan) dan pengalaman spiritual pribadi.
“Tiang awalnya merasa kesulitan, banyak gejolak dan tantangan, terutama tentang gaya hidup duniawi. Tiang berusaha berdamai dan akhirnya bisa karena ini merupakan anugerah kewajiban tata susila, tata agama dan laksana linggih. " ujar Rudi Astrawan, pengiring di pemasaran (kamar suci) dan pengayah roban (sekaa truna ) di Pura Alas Arum Batur, Desa Pakraman Batur, Kintamani, Bangli.
Namun baginya, menjadi pengiring atau pengayah di usia muda merupakan tantangan tersendiri, tetapi bukan berarti menarik diri sepenuhnya dari dunia luar. Banyak dari mereka yang tetap bekerja sebagai profesional, pengusaha, bahkan konten kreator, namun dengan batasan etika (sesana) yang lebih ketat.
“Titiang awalnya merasa sakit secara non medis sebelum kajumput/ditunjuk menjadi Jero Mangku Dasaran, kemudian diarahkan untuk ngiring dan mempelajari mantra, yadnya pengayah-ayah dan lain-lain. Tetap menjaga batas, dan membagi porsi antara menjalani kewajiban spiritual, dan hidup sesuai perkembangan zaman seperti bermedia sosial dan menjalani hoby”, ucap Rudi Astrawan.
| Baca juga: Ritual Bayuh Oton Netralisir Sifat Sad Ripu |
Kehadiran pengiring/pengayah muda justru membawa angin segar bagi umat. Dengan literasi digital yang baik, mereka sering kali menjadi jembatan bagi generasi sebaya untuk memahami filosofi agama melalui cara yang lebih relevan.
Pensiunan kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng yang saat ini sebagai Prajuru Pura Agung Jagatnatha Buleleng, Made Pasek menanggapi hal ini sebagai sinyal positif. Hal itu karena bisa jadi berkaitan dengan Karma Wasana (hasil perbuatan di kehidupan lampau) yang tidak bisa dihindari.
“Karma Wasana yang baik atau Subha Karma di masa lalu bisa jadi menuntun anak-anak muda untuk mengambil tanggung jawab suci ini lebih cepat daripada orang lain pada umumnya,” ujar Made Pasek.
Pilihan menjadi pengiring atau pengayah di usia muda adalah sebuah bukti bahwa tradisi bukan sekadar tentang masa lalu. Melainkan tentang bagaimana menjaga nilai-nilai luhur agar tetap hidup di era kekinian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....