Literasi Lingkungan Jadi Kunci Aksi Nyata Anak Muda

  • 07 Apr 2026 04:59 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja: Kesadaran menjaga lingkungan saat ini tidak cukup hanya berhenti pada kegiatan bersih-bersih semata. Generasi muda dituntut untuk memiliki pemahaman yang lebih dalam agar aksi yang dilakukan tidak sekadar simbolis, tetapi juga berdampak nyata. Dalam Obrolan SPADA belum lama ini, Winner Green Youth Putra Bali 2025 Yuda Septyadi menjelaskan bahwa literasi lingkungan menjadi fondasi utama sebelum seseorang terjun langsung dalam aksi. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai membaca buku, tetapi juga memahami, memiliki keterampilan, serta mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep literasi lingkungan yang diangkat menekankan pada hubungan erat antara manusia dan alam. Lingkungan bukan sekadar tempat tinggal, tetapi bagian dari kehidupan yang saling memengaruhi. Ketika lingkungan rusak, maka kualitas hidup manusia juga ikut terdampak. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memahami dasar-dasar pengelolaan lingkungan, mulai dari hal kecil seperti memilah sampah hingga memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang lebih berguna. “Literasi itu tidak hanya mengerti, tetapi juga punya skill dan kemampuan untuk beraksi” kata Yuda. Pernyataan ini menegaskan bahwa pengetahuan harus berjalan seiring dengan tindakan nyata.

Upaya edukasi pun dilakukan secara langsung melalui berbagai program, salah satunya melalui kegiatan turun ke sekolah. Generasi muda dikenalkan pada konsep lingkungan melalui sosialisasi yang dipadukan dengan praktik. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mengalami langsung proses pengelolaan lingkungan, seperti pembuatan eco-enzyme dari sampah organik. Dengan metode ini, diharapkan muncul kebiasaan baru yang dapat diterapkan di rumah maupun di lingkungan sekitar. Hal ini juga menjadi langkah awal untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan dari tingkat individu hingga komunitas.

Lebih dari itu, tantangan terbesar dalam menjaga lingkungan bukan hanya pada kurangnya fasilitas, tetapi juga kesadaran masyarakat itu sendiri. Banyak orang masih menganggap bahwa pengelolaan sampah sepenuhnya adalah tanggung jawab pemerintah. Padahal, perubahan justru harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. “Ketika kita punya pemahaman, kita punya kemampuan dan tahu, maka kita bisa beraksi” ujarnya.

Dari sini terlihat bahwa literasi menjadi kunci utama untuk mendorong aksi nyata. Jika setiap individu mulai sadar dan konsisten melakukan hal kecil, maka dampak besar terhadap lingkungan bukan lagi hal yang mustahil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....