Belajar Ikhlas agar Tetap Baik di tengah Tantangan

  • 05 Apr 2026 16:09 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja: Menjadi orang baik di tengah berbagai tantangan kehidupan memang bukan perkara mudah. Banyak orang yang awalnya memiliki niat tulus untuk membantu atau menebar kebaikan, namun akhirnya merasa lelah karena tidak mendapatkan respons yang diharapkan.

Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten Buleleng, Sri Drupadi menjelaskan bahwa kebaikan sejati justru diuji ketika seseorang tetap berbuat baik meskipun diperlakukan tidak baik. Di sinilah pentingnya memahami bahwa kebaikan tidak selalu harus berbalas, dan tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Salah satu kunci utama dalam menjaga kebaikan adalah keikhlasan. Banyak orang berbuat baik dengan harapan mendapatkan balasan atau pengakuan, baik secara langsung maupun tidak.

Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, muncul rasa kecewa, bahkan bisa berujung pada perubahan sikap. Padahal, dalam ajaran moral dan spiritual, kebaikan yang sejati adalah yang dilakukan tanpa pamrih.

“Jadi orang yang masih baik ketika diperlakukan tidak baik itu yang susah, kalimat ini menggambarkan bahwa tingkat kebaikan seseorang diuji bukan saat semuanya berjalan lancar, tetapi saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, ucap Sri Drupadi saat obrolan Spada di Pro 2 RRi singaraja belum lama ini.

Lebih jauh lagi, konsep karma juga menjadi pegangan penting dalam menjalani kehidupan yang baik. Setiap tindakan yang dilakukan, baik atau buruk, akan memberikan dampak, meskipun tidak selalu langsung terlihat.

Kebaikan yang kita lakukan hari ini mungkin tidak dibalas oleh orang yang sama, tetapi bisa datang dari arah yang tidak terduga. Hal ini mengajarkan untuk tidak menggantungkan harapan pada manusia, melainkan percaya bahwa setiap kebaikan memiliki jalannya sendiri.

“Sesuatu yang kita lakukan belum tentu kita terima hari ini, tapi bisa kita terima di lain kesempatan” katanya menambahkan.

Dengan memahami ini, seseorang akan lebih ringan dalam berbuat baik tanpa terbebani ekspektasi. Di sisi lain, penting juga untuk menjaga sikap rendah hati dan menghindari sifat abimana atau keangkuhan.

Sifat merasa paling benar, paling hebat, atau paling baik justru bisa mengurangi nilai dari kebaikan itu sendiri. Bahkan, hal tersebut dapat merusak hubungan sosial dan menciptakan konflik yang tidak perlu. Oleh karena itu, menjadi baik harus diiringi dengan kesadaran diri bahwa kita masih terus belajar.

Tidak perlu mengumumkan kebaikan yang dilakukan, karena orang lain akan menilai melalui tindakan nyata. Pada akhirnya, menjadi pribadi yang baik adalah perjalanan panjang yang membutuhkan keikhlasan, kesabaran, dan kerendahan hati agar tetap konsisten di tengah berbagai tantangan kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....