Menjadi Baik tanpa Merasa Paling Benar Itu Penting
- 05 Apr 2026 16:07 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja: Menjadi pribadi yang baik sering kali terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak semudah yang dibayangkan. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda, keinginan untuk terlihat benar kadang justru mengaburkan makna kebaikan itu sendiri. Banyak orang merasa sudah melakukan hal baik, tetapi tanpa sadar muncul sikap merasa paling benar, paling tahu, atau bahkan paling berpengalaman. Dalam obrolan SPADA bersama Sri Drupadi, Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementrian Agama Buleleng menyebut bahwa kebaikan bukan sekadar tindakan, tetapi juga cara berpikir dan bertutur yang selaras dengan nilai-nilai positif.
Dalam ajaran Hindu sendiri, konsep berpikir, berkata, dan berbuat baik dikenal dengan Tri Kaya Parisudha. Artinya, sebelum seseorang berbicara, harus didahului dengan pikiran yang baik agar apa yang disampaikan tidak melukai orang lain. Hal ini penting karena kata-kata memiliki dampak yang sangat besar, apalagi di era sekarang di mana komunikasi terjadi begitu cepat, termasuk melalui media sosial. “Baik dalam konteks atau dalam kamus besar bahasa Indonesia itu menggambarkan sesuatu yang sopan, sesuai norma, dan berguna” ujar Sri Drupadi. Dari sini bisa dipahami bahwa kebaikan bukan hanya soal niat, tetapi juga bagaimana hal itu diterima oleh orang lain.
Namun, tantangan terbesar justru muncul ketika seseorang sudah merasa dirinya baik. Perasaan tersebut bisa berubah menjadi ego yang berlebihan. Ketika seseorang merasa paling benar, ia cenderung menutup diri dari kritik dan saran. Padahal, setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda tentang kebaikan. Apa yang dianggap baik oleh satu orang, belum tentu dianggap sama oleh orang lain. Dalam kondisi ini, penting untuk tetap rendah hati dan tidak mencari validasi atas kebaikan yang dilakukan. “Kebaikan itu tidak perlu kita carikan validasi dan tidak perlu kita carikan penonton” katanya menambahkan. Pernyataan ini menegaskan bahwa kebaikan sejati dilakukan dengan tulus, bukan untuk mendapat pengakuan.
Selain itu, menjadi baik juga berarti siap menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang akan menerima atau menghargai apa yang kita lakukan. Ada kalanya nasihat yang diberikan justru diabaikan atau bahkan disalahartikan. Dalam situasi seperti ini, penting untuk tetap tenang dan tidak memaksakan kehendak. Tidak semua orang harus kita ubah, dan tidak semua orang siap menerima kebaikan yang kita tawarkan. Terkadang, memilih diam adalah bentuk kebijaksanaan, terutama jika lawan bicara tidak terbuka terhadap masukan. Pada akhirnya, menjadi baik bukan soal terlihat hebat di mata orang lain, tetapi tentang konsistensi dalam bersikap tulus, rendah hati, dan tidak merasa paling benar dalam setiap langkah kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....