Hakikat Dana Punia Jalan Pembebasan Diri

  • 25 Mar 2026 14:23 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Fenomena Dana Punia seringkali terlihat di setiap upacara keagamaan, namun pemaknaan mendalam di balik tradisi ini jauh melampaui angka-angka nominal.

Dana Punia secara etimologis berasal dari kata “Dana” yang berarti pemberian, dan “Punia” yang berarti selamat, bahagia, atau suci. Maka, hakikat dari Dana Punia adalah pemberian yang didasari oleh ketulusan hati untuk mencapai kesucian dan kebahagiaan bersama.

Sekretaris Prajuru Pura Agung Jagatnatha Buleleng, Nyoman Rasa Olas kepada RRI, Rabu, 25 Maret 2026 mengatakan bahwa landasan pelaksanaan Dana Punia adalah Tat Twam Asi dan konsep Vasudaiva Kutumbakam.

Konsep Utama Dana Punia adalah Keikhlasan (Lascarya), Kebenaran (Dharma) dan Ketepatan (Patra). Dana punia dapat berupa Dharmadana (pengetahuan suci, tenaga, budi pekerti luhur), Widyadana (Ilmu Pengetahuan) dan Arthadana (materi/harta benda)

“Yang bisa di dana puniakan itu kan tidak semata-mata harta, tidak semata-mata uang, tapi juga bisa yang lain, bisa pengetahuan, bisa ketrampilan, bisa tenaga,” kata Nyoman Rasa Olas.

Dana Punia adalah praktik pelepasan, sebagai sarana untuk mengikis sifat Lobha (ketamakan), Ego dan Moha (kebingungan) dalam diri manusia. Kita belajar untuk tidak terikat secara berlebihan pada duniawi, sehingga jiwa menjadi lebih ringan (jiwan mukti).

“Jangan sampai kehidupan kita didominasi oleh egoisme kita. Dalam beberapa kitab suci kita juga menyebutkan bahwa memang sesuatu yang paling sulit dilakukan adalah melepaskan” kata Nyoman Rasa Olas.

Dalam sloka Manawa Dharmasastra Bab I sloka 85-86 disebutkan bahwa di zaman Kali atau Kali Yuga, Dana Punia menjadi prioritas beragama karena dianggap paling memungkinkan dilakukan untuk menyeimbangkan karma, selain juga Japa Yadnya (pengulangan nama suci Tuhan).

Di era modern saat ini, Dana Punia telah bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Tidak hanya berupa uang tunai di kotak punia, masyarakat dapat menyalurkannya melalui dompet digital, transfer bank, atau bantuan beasiswa pendidikan bagi siswa kurang mampu.

Hakikatnya tetap sama menyeimbangkan hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam semesta (Palemahan).

Dengan memahami hakikat ini, diharapkan umat tidak lagi melihat Dana Punia sebagai sebuah beban kewajiban, melainkan sebagai sebuah kebutuhan spiritual untuk membersihkan diri dan membantu sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....