Tegteg Penyeneng dan Benang Tetebus Simbol Keteguhan Jiwa

  • 24 Mar 2026 11:38 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Di balik ritual Otonan atau hari lahir dalam tradisi Hindu di Bali, tersimpan makna mendalam melalui berbagai sarana upakara yang digunakan. Dua elemen yang hampir tidak pernah absen dan memiliki esensi vital adalah Tegteg Penyeneng dan Benang Tetebus.

Bukan sekadar pelengkap ritual, keduanya merupakan simbol doa dan harapan bagi yang diupacarai agar memiliki kehidupan yang selaras dan kokoh secara spiritual. Menurut Jro Mangku Gede Dana Pemangku Pura Bukit Sinunggal desa Tajun Buleleng kepada RRI, Senin, 23 Maret 2026, Tegteg Penyeneng atau Pabuat merupakan simbol Lingga Yoni. Keduanya melambangkan dua kekuatan utama alam semesta yang bersatu melahirkan kehidupan.

“Karna di Tegteg Penyeneng nika jelas simbolnya Lingga Yoni. Yang jelas Tegteg Penyeneng merupakan simbol dari pengenteg Bayu Pramana,” ucap Jro Mangku Gede Dana.

Salah satu momen sakral dalam Otonan adalah penggunaan Benang Tetebus, biasanya berwarna putih, yang dilingkarkan di pergelangan tangan atau diletakkan di atas kepala. Benang ini melambangkan hubungan yang tidak terputus antara manusia dengan Sang Pencipta (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Ia berfungsi sebagai pengikat agar atma (jiwa) tetap berada di jalurnya dan selalu ingat akan asal muasalnya.

“Benang tetebus nika merupakan simbol penghubung antara jiwa sang sane karyanang bakti otonan (orang yang diupacarai) dengan sang sane ngeraganin (Atman yang lahir kembali ke dunia dalam wujud jasmani baru) yang disebut dengan yang Munarbhawa, hubungannya dengan alam semesta, hubungannya dengan Tuhan Sang Maha pencipta,” ujar Jro Mangku.

Meskipun zaman terus berubah, penggunaan Tegteg Penyeneng dan Benang Tetebus tetap dipertahankan sebagai pengingat identitas diri. Upacara Otonan adalah momen introspeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....