Ogoh-Ogoh: Simbol Pembersihan Diri menuju Nyepi
- 18 Mar 2026 21:06 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Setiap setahun sekali, tepat sebelum Bali terlelap dalam kesunyian Hari Raya Nyepi, jalanan di Pulau Dewata berubah menjadi panggung seni raksasa. Itulah momen malam Pengerupukan.
Pada momen ini sosok-sosok raksasa yang kita kenal sebagai Ogoh-Ogoh turun ke jalan. Ogoh-ogoh bukanlah sekadar boneka besar untuk parade.
Secara filosofis, Ogoh-ogoh merupakan visualisasi dari Bhuta Kala yakni kekuatan alam semesta dan waktu yang seringkali digambarkan dalam wujud menyeramkan. Sosok ini melambangkan sifat-sifat buruk, kegelapan serta energi negatif yang ada di dalam diri manusia maupun lingkungan sekitar.
Dulu, Ogoh-ogoh dibuat dari kerangka bambu dan kertas bekas. Namun sekarang kreativitas pemuda Bali semakin luar biasa.
Banyak yang mulai beralih ke bahan ramah lingkungan seperti gabus (styrofoam) yang dikurangi, diganti dengan anyaman bambu mendetail, kertas koran sampai serabut kelapa. Setiap detail, mulai dari ekspresi wajah yang garang hingga anatomi tubuh yang proporsional, dikerjakan dengan gotong royong selama berbulan-bulan. Hal itu merupakan simbol solidaritas generasi muda Bali.
Usai diarak keliling desa dengan iringan gamelan Baleganjur yang enerjik, banyak Ogoh-ogoh yang akhirnya dibakar (pralina). Pembakaran ini melambangkan pemusnahan kekuatan jahat dan sifat-sifat buruk. Dengan membakar Ogoh-Ogoh, masyarakat berharap dunia kembali bersih (suci) sehingga siap memasuki masa meditasi dan keheningan saat Nyepi keesokan harinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....