Tradisi Meamuk-amukan Padangbulia Warnai Malam Pengerupukan

  • 18 Mar 2026 18:37 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948, masyarakat Desa Adat Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, kembali menggelar tradisi meamuk-amukan atau perang api. Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian malam pengerupukan yang sarat makna spiritual dan kebersamaan.

Tradisi meamuk-amukan dilaksanakan setelah upacara mecaru, dengan menggunakan sarana daun kelapa kering atau danyuh yang diikat dan dibakar. Warga kemudian saling mengadu danyuh yang menyala, menciptakan percikan api yang memeriahkan suasana malam menjelang Nyepi.

Kelian Desa Adat Padangbulia, I Gusti Ketut Semara menjelaskan tradisi ini memiliki makna filosofis sebagai simbol pengendalian diri, khususnya dalam meredam amarah dan hawa nafsu.

“Melalui tradisi ini, umat Hindu diingatkan bagaimana dalam menjalankan Catur Brata Penyepian harus mampu mengekang hawa nafsu yang dapat mengganggu kekhusyukan Nyepi. Meamuk-amukan ini adalah simbol memadamkan api amarah dalam diri,” ujarnya, Rabu 18 Maret 2026.

Selain memiliki makna spiritual, tradisi ini juga memperkuat nilai kebersamaan antarwarga. Masyarakat berkumpul dan berpartisipasi secara aktif, menjadikan tradisi ini sebagai momen suka cita dalam menyambut Tahun Baru Caka.

“Kita menyambut tahun baru dengan penuh suka cita. Tradisi ini bukan sekadar ngamuk, tetapi wujud kebersamaan masyarakat,” ucapnya.

Sebagai tradisi khas daerah, meamuk-amukan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Pengakuan tersebut diberikan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster kepada Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika pada tahun 2025.

Menurut I Gusti Ketut Semara, penetapan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi masyarakat untuk terus melestarikan tradisi leluhur agar tetap eksis di tengah perkembangan zaman.

“Kami sangat bersyukur dan bangga. Ini menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi ini agar tidak punah,” katanya.

Sementara itu, salah seorang pemuda, Putu Yoga mengaku telah mengikuti tradisi ini sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia menyebut tradisi tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari malam pengerupukan.

“Saya sudah ikut sejak SMP karena ini tradisi turun-temurun. Pernah juga mengalami luka ringan akibat terbakar, tetapi tidak sampai parah,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Putu Gede Susila Mahendra yang menilai tradisi meamuk-amukan menjadi momen yang paling dinantikan oleh para pemuda.

“Selain seru, ada rasa kebersamaan yang sangat kuat. Kami bangga bisa melestarikan warisan leluhur ini agar tetap dikenal dan tidak hilang,” ucapnya.

Tradisi meamuk-amukan tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga sarana refleksi diri menjelang Nyepi. Nilai pengendalian diri, kebersamaan, dan pelestarian budaya menjadi pesan utama yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....