Pengerupukan Nyepi, Tradisi Usir Roh Jahat di Bumi

  • 18 Mar 2026 17:36 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Pada Kamis (19/3/2026), Umat Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1948. Sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi, Umat Hindu melaksanakan tradisi Pengerupukan.

Berdasarkan perhitungan kalender Bali, Pengerupukan dilakukan pada Tilem Sasih Kesanga. Dengan demikian, Pengerupukan bertepatan pada Rabu (18/3/2026).

Pengerupukan merupakan salah satu tahapan pelaksanaan Hari Suci Nyepi. Pengerupukan bertujuan untuk mengusir Bhuta Kala (roh jahat) yang ada di lingkungan rumah, pekarangan, dan sekitar.

Dalam ajaran Hindu, Bhuta Kala merupakan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala). Bagi umat Hindu, prosesi Pengerupukan yang dilaksanakan pada sore hari dipercaya mampu mengusir Bhuta Kala atau kekuatan serta roh jahat. Tujuannya agar tidak mengganggu Umat dalam melaksanakan 'Catur Brata Penyepian' saat Hari Raya Nyepi keesokan harinya.

Pengerupukan dilaksanakan dengan mengelilingi halaman rumah dengan membawa obor api dari beberapa helai janur kering yang diikat menjadi satu. Selain itu diiringi dengan memukul benda-benda yang menghasilkan bunyi gaduh (misalnya tutup panci) sembari menaburkan nasi tawur dan tirta (air suci).

Pelaksanaan pengerupukan ditandai dengan diaraknya ogoh-ogoh atau patung yang menggambarkan kepribadian serta sosok Bhuta Kala. Umumnya, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar, menakutkan atau menyeramkan serta berwujud raksasa.

Usai diarak mengelilingi desa, ogoh-ogoh itu lantas dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh dimaknai sebagai upaya memusnahkan kejahatan yang disimbolkan dengan Bhuta Kala di bumi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....