Gema Hening di Tanah Rantau

  • 16 Mar 2026 12:15 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Cirebon – Bagi masyarakat Hindu asal Bali yang merantau, menjalani Hari Suci Nyepi jauh dari kampung halaman membawa tantangan sekaligus kedalaman spiritual yang berbeda. Tanpa pemadaman lampu serentak satu pulau, para perantau harus menciptakan keheningan mereka sendiri di tengah deru kota besar.

Salah seorang warga perantau yang konsisten menjaga tradisi ini adalah Jro Mangku Komang Adi Putra Dana, pemangku Pura Agung Jati Pramana asal Jembrana Bali, yang kini menetap di wilayah Cirebon. Jro Mangku Komang kepada RRI, Senin, 16 Maret 2026 melalui sambungan telepon mengatakan bahwa Catur Brata Penyepian tetap teguh dijalankan meski lingkungan sekitar tetap beraktivitas normal.

Jika di Bali satu pulau berhenti beraktivitas, sedangkan di luar Bali tantangan godaan visual dan suara jauh lebih tinggi. Namun menurutnya justru di sinilah kualitas pengendalian diri diuji.

Meskipun dalam keterbatasan ruang, Jro Mangku Komang menekankan bahwa esensi dari Nyepi bukanlah pada pemadaman lampu secara fisik semata, melainkan pemadaman api dalam diri. Amati Geni yakni tidak menyalakan api fisik maupun api amarah. Amati Karya, berhenti sejenak dari pekerjaan rutin. Amati Lelunganan, tidak bepergian, tetap diam di dalam rumah dan Amati Lelanguan, melepaskan diri dari hiburan duniawi.

Senada dengan Jro Mangku Komang, Gede Sukadana Leader security Mall Cijantung asal Jembrana Bali yang tinggal di wilayah Jakarta Timur mengatakan tantangan Nyepi di luar Bali.

“Pelaksanaan ritual panyepian di bali lebih mudah dilaksanakan, karena lingkungannya mendukung dan semua kegiatan berhenti. Tapi bagi yg punya kesadaran, nyepi dimanapun ga masalah, karena sesungguhnya nyepi itu laku bathin, sepi dan hening,” kata Sukadana.

Berbeda dengan di Bali yang meriah dengan pawai Ogoh-ogoh dan Upacara Tawur Kesanga di setiap sudut desa dan perempatan atau catus pata, namun di perantauan skalanya jauh lebih kecil dan terpusat.

“Pelaksanaan ritual nyepi di luar Bali tidak akan pernah bisa besar-besaran sebagaimana di Bali. Tapi esensi nyepi justru sepi secara fisik, dan hening secara bathin,” ujar Sukadana

Baik Jro Mangku Komang maupun Gede Sukadana berharap umat Hindu Bali yang merantau tidak kehilangan identitasnya, hidup sehat damai dan tidak saling bersinggungan dengan penganut agama lainnya. Nyepi di luar Bali adalah ajang pembuktian bahwa iman tidak tergantung pada lokasi, melainkan pada keteguhan hati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....