Nyepi dan Tri Kona Harmoni dalam Keheningan
- 11 Mar 2026 04:34 WIB
- Singaraja
RRI. CO. ID, Singaraja - Pelaksanaan Hari Suci Nyepi, bukan sekadar ritual menghentikan aktivitas fisik semata, tetapi mengajak kita memahami siklus Tri Kona, Utpeti (penciptaan), Stiti (pemeliharaan), dan Pralina (peleburan). Akademisi Dr. I Nyoman Suka Ardiyasa memberikan pandangan mendalam mengenai relevansi ajaran Tri Kona dalam pelaksanaan Nyepi di era modern.
Melasti sebagai simbol Utpetti karena melalui proses penyucian ke laut umat berupaya mengembalikan alam dan diri manusia pada kondisi murni sebagai dasar lahirnya tatanan kosmis yang baru. Tawur Kesanga mencerminkan prinsip Stiti yakni usaha menjaga keseimbangan antara manusia dengan kekuatan alam melalui upacara Butha yadnya sehingga harmoni tetap terpelihara. Puncaknya adalah pelaksanaan Catur Brata penyepian. Fase keheningan total ini adalah fase pralina, peleburan seluruh dinamika kehidupan menuju kesunyian kosmis.
“Nyepi dapat dipahami sebagai aspek spiritual yang menampilkan siklus Tri Kona secara nyata dalam praktek keagamaan masyarakat Hindu di Bali,” ujar Suka Ardiyasa kepada RRI, Senin, 9 Maret 2026.
Menanggapi isu sampah sisa upacara Tawur dan pengarakan ogoh-ogoh rangkaian hari suci Nyepi, Sekretaris PHDI Kabupaten Buleleng, Dr. Nyoman Suardika yang akrab disapa Mang Epo mengatakan, agar ditangani melalui konsep pralina sekala niskala.
“Niskala dalam bentuk upacara mralina, kemudian dalam sekala itu adalah dari indria tubuh manusia itu, yakni caksu indria, bagaimana mata itu tidak melihat kotoran-kotoran, sampah-sampah bekas sesajen atau ogoh-ogoh itu, agar apa yang menjadi tujuan Butha yadnya yaitu membersihkan, di sekala juga agar bersih,” katanya.
Menurut Suardika, beberapa poin penting yang diharapkan dalam perayaan hari suci Nyepi 2026 ini antara lain: adanya peningkatan kualitas ritual, solidaritas sosial dan Digital Detox.
Terkait kebijakan layanan data seluler di seluruh Bali akan dihentikan selama 24 jam penuh saat Hari Suci Nyepi Saka 1948, mulai Kamis, 19 Maret 2026 menurut Suardika, hal itu bertujuan untuk menjaga kekhusyukan Catur Brata Penyepian.
Dengan memahami konsep Tri Kona, masyarakat diharapkan memahami Nyepi sebagai kebutuhan spiritual untuk menjaga keberlangsungan hidup yang harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....