Refleksi Tri Hita Karana dalam Mitigasi Bencana
- 11 Mar 2026 07:14 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Bali belakangan ini menggugah kesadaran akan filosofi Tri Hita Karana sebagai fondasi mitigasi bencana berbasis budaya.
Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah (Pusdalops) BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan kepada RRI, Senin, 9 Maret 2026 mengatakan, prinsip mitigasi bencana bukan hal baru bagi masyarakat di Bali, karena sejak dulu masyarakat sudah mengenal konsep ajaran Sad Kertih dan Tri Hita Karana.
| Baca juga: Spirit Tumpek Wariga bagi Keharmonisan Alam |
Menurut Suryawan, arah pembangunan Bali saat ini pun melalui visi Nangun Sat Kerti Loka Bali menegaskan pentingnya menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali sebagai bagian dari Pembangunan daerah.
“Jangan sampai pembangunan itu menambah kerentanan yang sudah ada apalagi sampai menciptakan sebuah kerentanan baru. Justru pembangunan itu harus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketangguhan Bali secara berkelanjutan,” ujar Suryawan.
Di sisi lain, tokoh agama sekaligus pendiri Pasraman Pinandita Brahwa Vidya Samgraha, Ida Bhawati Hermawan Tangkas mengatakan bahwa bencana alam adalah alarm atas ketidakharmonisan hubungan antara manusia dengan alam.
Dalam konsep Tri Hita Karana, keseimbangan harus dijaga di tiga lini yakni Parahyangan(hubungan harmonis manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan harmonis antara manusia dengan manusia), dan Palemahan (Hubungan harmonis manusia dengan alam).
“Saat ini kita sudah tidak bisa menyalahkan siapapun tetapi ini bagian daripada tanggungjawab kita bersama untuk bagaimana caranya menormalisasi lagi keberadaan alam kita sehingga bisa berfungsi sebagaimana mestinya,” kata Ida Bhawati Hermawan.
Bali tangguh bencana hanya bisa terwujud jika masyarakat kembali memuliakan alam seperti halnya memuliakan diri sendiri dan pencipta-Nya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....