Media Jadi Tantangan Moderasi Beragama, Literasi Masyarakat Perlu Ditingkatkan

  • 09 Mar 2026 21:26 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Perkembangan media sosial yang sangat cepat menjadi salah satu tantangan dalam menjaga sikap moderasi beragama di tengah masyarakat. Hal ini disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Putu Sariada.

Menurutnya, arus informasi yang begitu cepat sering kali membuat masyarakat mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu benar. Kurangnya literasi dalam memahami informasi dapat memicu kesalahpahaman hingga sikap intoleransi.

“Tantangan terbesar sekarang adalah perkembangan media yang sangat cepat. Kita sering hanya melihat sebagian informasi saja, seperti teori gunung es. Kita melihat ujungnya saja, tetapi tidak memahami keseluruhan konteksnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, media sosial sebenarnya dapat memberikan banyak manfaat karena memungkinkan masyarakat mengetahui berbagai tradisi dan budaya yang ada di daerah lain. Namun jika tidak disertai dengan pemahaman yang baik, informasi tersebut juga bisa menimbulkan kesalahpahaman.

“Sekarang kita bisa mengetahui banyak tradisi dari media sosial, misalnya tradisi di desa tertentu. Itu bagus untuk menambah pengetahuan. Tetapi kalau kita hanya membaca judul atau potongan informasi saja, kita bisa salah memahami,” ujarnya.

Sariada menilai, salah satu penyebab munculnya konflik di masyarakat adalah kebiasaan menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

“Kadang kita hanya membaca sedikit lalu langsung menyimpulkan bahwa sesuatu itu salah. Bahkan langsung dibagikan ke orang lain tanpa mengetahui kebenarannya,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dengan membaca informasi secara utuh sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain.

“Intinya jangan terlalu cepat menyimpulkan. Pahami dulu konteks beritanya, baru kita bisa menilai apakah itu benar atau tidak,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa keberagaman yang ada di Indonesia, termasuk di Buleleng, seharusnya menjadi kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat. Keberagaman tersebut diibaratkan seperti pelangi yang memiliki banyak warna namun membentuk keindahan ketika bersatu.

“Keberagaman itu seperti pelangi. Kalau satu warna saja tentu tidak indah. Justru karena banyak warna maka menjadi indah. Begitu juga dengan masyarakat kita,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....