Tanah Merayap Rusak Rumah Warga Sorga Mekar, 2 KK Mengungsi
- 07 Mar 2026 13:35 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Fenomena tanah merayap yang terjadi di Banjar Dinas Sorga Mekar, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng sejak 11 Februari 2026 menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga. Akibat kondisi tersebut, dua kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Pergerakan tanah diduga dipicu oleh tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir yang menyebabkan tanah menjadi jenuh air. Selain itu, struktur tanah di lokasi tersebut berasal dari material batuan purba yang bersifat labil sehingga rentan mengalami pergerakan.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, tim gabungan melakukan pemantauan langsung di lokasi pada Jumat 6 Maret 2026. Tim tersebut terdiri dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), BMKG, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng.
| Baca juga: Diterjang Angin, Rumah Warga Rata Tanah |
Kegiatan pemantauan juga dihadiri Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buleleng yang sekaligus menyerahkan bantuan logistik kepada warga terdampak. Turut hadir pihak Kecamatan Seririt, Perbekel Desa Lokapaksa, LPBI NU, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta masyarakat setempat.
Berdasarkan hasil pengamatan awal para ahli di lapangan, fenomena tersebut dikategorikan sebagai rayapan tanah atau soil creep. Pergerakan tanah terjadi secara perlahan akibat kondisi tanah yang jenuh air sehingga memicu pergeseran lapisan tanah.
Perbekel Desa Lokapaksa, Putu Dodik Tryana, mengatakan pihak desa langsung melakukan pengecekan setelah menerima laporan dari warga terkait pergerakan tanah tersebut.
“Kami langsung turun ke lapangan bersama perangkat desa untuk melakukan pengecekan dan pendataan. Data tersebut kemudian kami kirimkan ke BPBD untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.
Saat ini tercatat lima kepala keluarga berada di area terdampak dan diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Jika kondisi memburuk, evakuasi warga lainnya akan segera dipertimbangkan.
Penelitian lanjutan rencananya akan dilakukan oleh BMKG pada Sabtu 7 Maret 2026, sementara tim IAGI akan melakukan penelitian menggunakan metode geolistrik pada 9 Maret 2026 untuk mengetahui kondisi struktur tanah secara lebih detail. Hasil penelitian tersebut nantinya akan menjadi dasar penanganan serta sosialisasi kepada masyarakat di wilayah terdampak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....