Diskusi HPN 2026 Buleleng Soroti Viralitas dan Etika Media

  • 27 Feb 2026 11:49 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kabupaten Buleleng diisi dengan diskusi bertema “Viralitas dan Etika Pemberitaan”. Kegiatan yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Buleleng itu berlangsung pada Jumat, 27 Februari 2026, di Aula Lantai IV Rektorat Institut Agama Hindu Mpu Kuturan. Forum ini menghadirkan unsur pemerintah daerah, DPRD, akademisi, jurnalis, admin media sosial, serta mahasiswa.

Ketua PWI Kabupaten Buleleng, Made Winingsih, dalam laporannya menyampaikan bahwa peringatan HPN yang jatuh setiap 9 Februari dan HUT PWI ke-80 tahun 2026 menjadi momentum refleksi bagi insan pers. Ia mengingatkan bahwa peringatan ini berakar dari lahirnya PWI pada 9 Februari 1946 di Surakarta. Momentum tersebut harus dimaknai sebagai ruang memperkuat komitmen terhadap jurnalisme yang profesional, berintegritas, dan bertanggung jawab.

“Viralitas dan etika jurnalisme menjadi isu penting saat ini. Kecepatan apakah selalu seiring dengan akurasi? Di sinilah pentingnya etika jurnalisme. Pers memiliki tanggung jawab moral dan sosial,” ujar Made Winingsih di hadapan peserta diskusi. Ia menegaskan bahwa setiap wartawan terikat pada kode etik jurnalistik yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas.

Menurutnya, di era media sosial, produksi dan distribusi informasi tidak lagi hanya dilakukan oleh jurnalis. Admin media sosial, kreator konten, bahkan setiap individu memiliki potensi menjadi penyebar informasi. “Kita ingin membangun kesadaran bersama bahwa viralitas tanpa etika dapat menimbulkan disinformasi, polarisasi, bahkan merusak reputasi dan tatanan sosial,” katanya.

Diskusi HPN 2026 ini akan dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama menghadirkan I Gusti Putu Artha, S.P., M.Si., sebagai pengamat sosial, serta I Gusti Ngurah Aan Darmawan, S.Kom., M.I.Kom., akademisi dari Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja. Keduanya dijadwalkan mengulas fenomena viralitas dari perspektif sosial dan akademik, sekaligus membedah tantangan etika pemberitaan di ruang digital.

Sesi kedua akan diisi oleh Francelino Xavier Ximenes Freitas, wartawan senior di Buleleng. Ia akan membahas pengalaman praktik jurnalistik di lapangan, termasuk penerapan kode etik di tengah tekanan kecepatan informasi. Paparan tersebut diharapkan memberi gambaran konkret tentang menjaga profesionalisme di era digital.

Sementara itu, Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra yang diwakili Staf Ahli Bupati Buleleng, Ni Nyoman Surattini, ST, membacakan sambutan resmi kepala daerah. Dalam sambutannya, bupati menyampaikan apresiasi kepada PWI Buleleng yang secara konsisten memperingati HPN dengan kegiatan diskusi yang relevan dengan kondisi dunia informasi saat ini. Pemerintah daerah menilai tema yang diangkat sejalan dengan tantangan era digital.

“Kita hidup di era digital yang ditandai dengan kecepatan arus informasi. Sebuah peristiwa dapat menjadi viral dalam hitungan menit. Namun di tengah derasnya arus tersebut, kecepatan tidak boleh mengalahkan kebenaran dan viralitas tidak boleh mengesampingkan etika,” demikian kutipan sambutan bupati yang dibacakan perwakilan.

Bupati juga menegaskan bahwa pers memiliki peran strategis sebagai pilar demokrasi. Pers tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendidik masyarakat, mengawal kebijakan, serta menjadi jembatan antara pemerintah dan publik. Diskusi ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara pers, pemerintah, akademisi, dan masyarakat digital untuk menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan beretika di Buleleng.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....