BIRF 2026 Kembali Digelar, Bali Utara Kian Mendunia

  • 22 Feb 2026 07:52 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Buleleng kembali dipercaya menjadi tuan rumah Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Festival budaya internasional ini dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Maret 2026.

Direktur International Organization of Folk Art (IOV) UNESCO Indonesia Wilayah Bali, I Gusti Ngurah Eka Prasetya atau Gus Eka, mengatakan kepercayaan dari UNESCO bersama IOV Indonesia menjadi bukti Bali Utara semakin diakui sebagai panggung budaya dunia.

“Ini bukan sekadar festival. Ini adalah bentuk kepercayaan dunia internasional kepada Buleleng dan Bali Utara yang konsisten menjaga, merawat, sekaligus mempromosikan seni tradisi melalui diplomasi budaya,” ujar Gus Eka dalam konferensi pers di Puri Kanginan, Sabtu 14 Februari 2026.

Ia menjelaskan, kegiatan inti BIRF 2026 digelar pada 11–14 Maret, dengan jadwal kedatangan peserta pada 10 Maret dan kepulangan pada 15 Maret. Festival tahun ini akan menghadirkan seniman, budayawan, dan akademisi dari enam negara untuk memperkenalkan budaya masing-masing serta membangun pertukaran pengetahuan lintas negara melalui seni dan ritme tradisional dunia.

Penyelenggaraan festival merupakan kolaborasi UNESCO bersama IOV Indonesia dan Yayasan Sanggar Seni Santi Budaya sebagai penggerak utama. Selama tiga kali pelaksanaan, kegiatan ini juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Buleleng dan Puri Kangenan Buleleng.

“Kami bersyukur pemerintah daerah dan unsur puri konsisten mendukung program budaya internasional di Bali Utara. Ini menunjukkan kolaborasi lintas elemen berjalan kuat dan berkelanjutan,” kata Gus Eka yang juga Ketua Sanggar Seni Santi Budaya.

Dukungan akademik datang dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang menjadi penyelenggara program kegiatan. Menurutnya, keterlibatan kampus memperkuat aspek edukasi dan riset sekaligus membuka ruang partisipasi generasi muda.

Festival juga melibatkan masyarakat melalui Desa Wisata Panji dan Desa Wisata Kalibukbuk, serta sejumlah UMKM lokal seperti olahan sorgum dari Desa Panji dan produk ulatan bambu Desa Tigawasa. Selain itu, workshop digelar di sejumlah sekolah dan kampus di Buleleng untuk mendorong pertukaran budaya secara langsung.

Gus Eka berharap BIRF mampu menghadirkan warna baru dalam sektor pariwisata Bali melalui penguatan wisata edukasi dan konservasi budaya.

“Melalui diplomasi seni yang berkelas dan berkelanjutan, Bali tidak hanya dikenal karena alamnya, tetapi juga karena kekuatan budayanya,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....