Canang Sari: Tradisi Sederhana yang Sarat Makna
- 09 Feb 2026 22:25 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Canang sari adalah persembahan harian paling umum oleh umat Hindu Bali sebagai wujud syukur dan doa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) serta manifestasinya. Terdiri dari wadah janur (ceper), bunga warna-warni, porosan, dan bahan lainnya, canang sari diletakkan di pura, rumah, tempat usaha, dan jalanan. Persembahan ini melambangkan ketulusan hati dan memohon kedamaian.
Makna dan Filosofi Canang Sari:
Arti Kata: "Can" berarti indah, dan "Nang" berarti tujuan/maksud (bahasa Kawi/Jawa Kuno), sementara "Sari" berarti inti atau sumber. Jadi, canang sari adalah sarana memohon keindahan kepada Tuhan.
Simbolisme: Ceper (alas segi empat) melambangkan Ardha Candra (bulan), yang juga simbol Panca Mahabhuta (lima elemen pembentuk alam semesta).
Porosan: Komponen inti yang terdiri dari sirih, kapur, dan pinang, melambangkan Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) dan harus diisi dengan hati yang welas asih.
Bunga Warna-warni: Disusun sesuai arah mata angin (Panca Dewata):
Putih (Timur - Iswara): Memohon kekuatan kesucian.
Merah (Selatan - Brahma): Memohon kekuatan penciptaan/api.
Kuning (Barat - Mahadeva): Memohon kekuatan penguasaan diri.
Biru/Hijau/Ungu (Utara - Wisnu): Memohon kekuatan pemeliharaan/air.
Beras/Wija: Melambangkan Sang Hyang Atma (benih kehidupan).
Tebu & Pisang: Melambangkan Amrtha (sumber kehidupan/kebahagiaan).
Penggunaan dan Peletakan:
Canang sari dihaturkan setiap hari, terutama saat purnama, tilem, kajeng kliwon, dan hari raya lainnya. Dapat ditemukan di tempat pemujaan (sanggah), pintu masuk rumah, tempat usaha, hingga dasbor mobil.
Pemasangannya sering disertai dupa (api) sebagai saksi ritual. Canang sari mencerminkan budaya Bali yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan, serta menjadi identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....