Etika Berbicara Anak Muda Dalam Kehidupan Beragama Digital

  • 08 Feb 2026 16:05 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi. Jika dahulu komunikasi dilakukan secara langsung, kini percakapan banyak terjadi melalui media sosial dan pesan singkat. Perubahan ini menghadirkan tantangan baru, terutama bagi generasi muda, dalam menjaga etika berbicara. Tulisan yang tidak memiliki nada sering kali menimbulkan salah persepsi, sehingga ucapan yang sebenarnya biasa saja dapat dianggap menyinggung. Dalam konteks kehidupan beragama, menjaga ucapan tidak hanya berlaku secara lisan, tetapi juga dalam bentuk tulisan di ruang digital.

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buleleng, Putu Sariada, menilai bahwa perbedaan generasi turut memengaruhi gaya komunikasi saat ini. Generasi muda cenderung berbicara secara langsung dan singkat, sementara generasi sebelumnya lebih memperhatikan tata bahasa dan etika penyampaian. “Sekarang gaya komunikasi banyak yang langsung to the point, tetapi tetap perlu diingat bahwa etika berbicara tidak boleh hilang,” ucapnya saat mengisi obrolan Spada belum lama ini. Ia menambahkan bahwa kesopanan dalam berkomunikasi menjadi bagian penting dari pembentukan karakter, baik di dunia nyata maupun digital.

Dalam ajaran Hindu sendiri, konsep Tri Kaya Parisudha mengajarkan kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan yang saling berkaitan. Artinya, sebelum berbicara atau menulis sesuatu, seseorang sebaiknya terlebih dahulu mempertimbangkan dampaknya. Sariada menegaskan bahwa permasalahan sering muncul karena seseorang berbicara tanpa didahului pemikiran yang matang. “Berpikir dulu sebelum berbicara adalah kunci agar ucapan tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri,” katanya. Prinsip ini menjadi relevan di era media sosial, di mana satu kalimat dapat tersebar luas dalam waktu singkat.

Meski demikian, menjaga ucapan bukan berarti membatasi ekspresi diri. Komunikasi tetap diperlukan untuk membangun hubungan sosial dan mempererat toleransi antarumat beragama. Yang terpenting adalah kesadaran bahwa tidak semua orang memiliki persepsi yang sama terhadap sebuah ucapan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, komunikasi yang baik menjadi sarana untuk menjaga keharmonisan bersama. Dengan memahami etika berbicara, baik secara lisan maupun tulisan, generasi muda diharapkan mampu menggunakan media komunikasi sebagai sarana mempererat persaudaraan, bukan sebaliknya menimbulkan perpecahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....