Dua SD di Jembrana Dipastikan Diregrouping Awal 2026
- 29 Jan 2026 15:31 WIB
- Singaraja
KBRN, Negara: Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jembrana masih melakukan kajian terhadap rencana regrouping sembilan sekolah dasar di wilayah tersebut. Namun demikian, dua sekolah telah dipastikan siap untuk digabung dan akan mulai direalisasikan pada Januari 2026.
Kepala Disdikpora Kabupaten Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, mengatakan kebijakan regrouping dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari ketersediaan tenaga pendidik hingga kondisi geografis sekolah.
“Untuk sembilan sekolah yang direncanakan diregrouping, saat ini masih dalam tahap kajian. Namun ada beberapa yang sudah kami konfirmasi dan sifatnya sudah final,” ujar Anom Saputra, Minggu (4/1/2026).
Ia menjelaskan, pelaksanaan regrouping tidak dilakukan secara serentak karena harus menyesuaikan dengan proses pendistribusian kepala sekolah dan guru yang saat ini dilakukan melalui sistem aplikasi nasional. Dalam proses tersebut, terdapat sejumlah kendala administratif.
“Distribusi kepala sekolah dan guru dilakukan melalui aplikasi. Ada kepala sekolah yang belum bisa dipindahkan karena masa jabatannya belum mencapai dua tahun. Ini masih kami proses,” ujarnya.
Dua sekolah yang telah dipastikan akan diregrouping pada tahap awal yakni SD Negeri 3 Penyaringan dan SD Negeri 5 Yehembang Kauh. Sementara itu, SD Negeri 5 Batuagung dan SD Negeri 2 Pulukan masih dalam tahap kajian lanjutan.
“Untuk dua sekolah tersebut, kami lakukan evaluasi ulang. Ada permintaan penundaan dari pihak sekolah dan kami akomodasi, namun tetap dalam pemantauan,” kata Anom Saputra.
Menurutnya, Disdikpora telah berkoordinasi dengan komite sekolah dan pemerintah desa setempat terkait rencana regrouping tersebut. Meskipun terdapat potensi penambahan jumlah siswa pada tahun ajaran mendatang, pihaknya tetap mengedepankan data dan kondisi riil di lapangan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Lebih lanjut, Anom Saputra menekankan bahwa kebijakan regrouping dilakukan untuk mengatasi ketimpangan rasio guru dan sekolah yang dinilai semakin tidak ideal. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya pengangkatan guru baru sejak 2019, sementara jumlah guru yang memasuki masa pensiun terus meningkat.
“Tahun depan dipastikan belum ada pengangkatan guru baru, sementara yang pensiun masih cukup banyak. Saat ini juga tidak memungkinkan lagi mengangkat guru kontrak atau honorer seperti sebelumnya, sehingga perencanaan harus dilakukan sejak dini,” ucapnya.
Selain rasio guru, faktor jarak dan wilayah juga menjadi pertimbangan utama. Ia menegaskan, sekolah dengan jumlah siswa sedikit tidak serta-merta diregrouping apabila jarak dengan sekolah terdekat tergolong jauh.
“Ada sekolah dengan murid sedikit, tetapi jaraknya bisa mencapai delapan kilometer dari sekolah terdekat. Kondisi seperti itu tentu tidak bisa dipaksakan untuk digabung. Regrouping kami prioritaskan pada sekolah yang jumlah siswanya sedikit dan memiliki sekolah terdekat,” katanya.
Dari sembilan sekolah dasar yang masuk rencana regrouping, hanya sebagian yang siap dilaksanakan dalam waktu dekat. Tahap awal regrouping SD Negeri 3 Penyaringan dan SD Negeri 5 Yehembang Kauh dijadwalkan mulai berjalan pada Januari 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....