Drama Gong, Menjaga Pakem atau Mengejar Viral?

  • 28 Jan 2026 15:09 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Eksistensi Drama Gong sebagai seni pertunjukan ikonik Bali menjadi topik Obrolan Budaya yang berlangsung pada Rabu, 28 Januari 2026 di studio III LPP RRI Singaraja. Menghadirkan narasumber akademisi sekaligus praktisi seni kawakan, Nyoman Suardika, atau yang akrab disapa Mang Epo. 

Obrolan kali ini membedah tantangan berat yang dihadapi seniman Drama Gong di era digital, antara menjaga sakralnya pakem tradisi atau tunduk pada tuntutan algoritma demi menjadi viral. Mang Epo menekankan bahwa Drama Gong sejatinya adalah seni yang adaptif. Namun, belakangan ini ada kecenderungan demi mengejar tawa instan dan potongan video pendek yang laku di media sosial.

"Pakem itu adalah fondasi, di dalamnya ada angga-ungguh (etika berbahasa), struktur cerita, dan nilai moral, kalau kita hilangkan itu hanya demi durasi singkat atau komedi yang viral, maka kita bukan lagi bermain Drama Gong, melainkan sekadar lawakan bebas," ujar Mang Epo.

"Kami mengakomodir tuntutan kekinian dengan Ladrak singkatan Lawak Drama Komedi, durasi singkat dan kreatif  dari segi pakem bahasa dan lain-lain," ucapnya.

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah fenomena perubahan durasi dan gaya pementasan. Di era sekarang, penonton cenderung menginginkan fragmen-fragmen lucu yang mudah dibagikan di platform seperti TikTok atau Instagram.

Mang Epo juga menyoroti adanya beberapa pergeseran, antara lain, porsi lawakan yang dominan dan seringkali menggerus inti cerita (lakon), penggunaan bahasa Bali yang halus (alus) mulai terpinggirkan oleh bahasa gaul demi kesan kekinian dan seringkali interaksi keluar dari alur cerita utama demi merespons komentar netizen secara langsung saat live streaming.

"Viral itu bonus, kualitas itu fokus, jika kita hanya mengejar viral, Drama Gong akan kehilangan roh atau taksu-nya, kita perlu memberikan edukasi kepada penonton muda bahwa menonton Drama Gong adalah menikmati sebuah proses cerita, bukan sekadar menunggu potongan lucu," katanya.

Menutup obrolan, Mang Epo mengajak para seniman muda untuk lebih kreatif tanpa harus merusak tatanan. Menurutnya, teknologi harus digunakan sebagai alat promosi, bukan pengubah jati diri seni tersebut. 

Dia menyarankan adanya standardisasi kembali terhadap pelatihan dasar bagi pemain Drama Gong muda agar mereka paham betul filosofi di balik kostum, gerak, dan tutur kata yang mereka bawakan. Pemerintah pun berperan penting dalam melestarikan Drama Gong.

Hal itu melalui penetapan kebijakan, fasilitasi acara, dukungan dana, pendaftaran sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb), integrasi dengan program daerah serta memastikan keberlanjutan dan regenerasi seniman. Eksistensi Drama Gong sangat bergantung pada keseimbangan antara inovasi visual dan keteguhan memegang akar budaya. (RRI/Ratih)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....