Ahimsa Bukan Diam Tapi Sadar Sebelum Bicara

  • 28 Jan 2026 08:58 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kebebasan berbicara sering kali dimaknai sebagai kebebasan untuk mengungkapkan apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya. Padahal, dalam ajaran Hindu terdapat konsep Ahimsa yang menekankan pentingnya kesadaran sebelum bertutur kata. 

Hal ini disampaikan oleh Purnamayanti, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, saat menjadi narasumber Obrolan Spada belum lama ini. Dia menegaskan bahwa Ahimsa bukan berarti memilih diam, melainkan kemampuan mengendalikan diri agar tidak menyakiti orang lain. 

“Ahimsa itu bukan soal menahan diri untuk tidak bicara, tapi bagaimana kita sadar sebelum berbicara,” kata Purnamayanti.

Menurutnya, kata-kata yang diucapkan tanpa pertimbangan sering kali menimbulkan kesalahpahaman dan konflik. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak ucapan yang dianggap bercanda, namun justru melukai perasaan orang lain. Oleh karena itu, Ahimsa menuntut kepekaan terhadap situasi, kondisi, serta hubungan sosial dengan lawan bicara. 

Purnamayanti menekankan bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda, sehingga respons terhadap suatu ucapan pun tidak selalu sama. Dia juga menyinggung kebiasaan bertanya atau berkomentar yang dianggap sepele, tetapi dapat menyinggung perasaan, terutama kepada orang yang belum akrab. Dalam budaya Bali yang menjunjung nilai kebersamaan dan mebraye, menjaga lisan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. 

“Kalau kita sendiri tidak suka disakiti lewat kata-kata, maka jangan lakukan hal yang sama kepada orang lain,” ucap Purnamayanti. 

Nilai welas asih, saling asah, asih, dan asuh pun menjadi landasan penting dalam menerapkan Ahimsa di tengah masyarakat. Di era digital, tantangan penerapan Ahimsa semakin besar karena media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas. Purnamayanti mengingatkan bahwa komentar dan tulisan di media sosial juga merupakan bentuk perbuatan yang lahir dari pikiran. 

Oleh karena itu, pengendalian diri dan kesadaran moral menjadi sangat penting. Dengan menerapkan Ahimsa, kebebasan berbicara tetap dapat berjalan seiring dengan terciptanya suasana damai, aman, dan saling menghargai, baik di ruang nyata maupun dunia digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....