Pengambilan Sampel Suspek LSD Dilakukan di Jembrana
- 25 Jan 2026 09:55 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Negara - Upaya menekan penyebaran virus Lumpy Skin Disease (LSD) atau yang dikenal dengan sebutan lato-lato pada ternak sapi di Kabupaten Jembrana terus diintensifkan. Selain melaksanakan vaksinasi awal di wilayah yang masuk kategori zona merah, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (PPP) Jembrana juga melakukan pengambilan sampel terhadap ternak yang diduga terpapar LSD.
Pengambilan sampel dilakukan di sejumlah kecamatan, yakni Melaya, Negara, Jembrana, dan Mendoyo. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan ternak serta memetakan sebaran penyakit secara lebih akurat.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas PPP Jembrana, I Gusti Putu Ngurah Sugiarta, Kamis, 22 Januari 2026, mengatakan hingga saat ini kasus positif LSD yang tercatat secara resmi berjumlah 28 ekor sapi. Dari jumlah tersebut, tiga ekor telah dinyatakan positif berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet), sementara 25 ekor lainnya dikategorikan positif karena menunjukkan gejala klinis khas LSD dan berada pada lokasi yang sama.
Sugiarta menambahkan, tim di lapangan terus melakukan langkah-langkah pencegahan, termasuk menindaklanjuti puluhan laporan ternak dengan status suspek. “Sampel diambil untuk memastikan apakah ternak tersebut benar-benar terinfeksi LSD atau tidak melalui pemeriksaan laboratorium BBVet,” ujarnya.
Saat ini, pengambilan sampel masih berlangsung di Kecamatan Melaya, Negara, Jembrana, dan Mendoyo. Sementara itu, Kecamatan Pekutatan hingga kini dilaporkan belum ditemukan adanya ternak dengan status suspek LSD.
Seluruh sampel yang telah dikumpulkan rencananya akan dikirim ke BBVet Denpasar untuk memastikan apakah ternak terinfeksi virus LSD atau mengalami penyakit kulit lain dengan gejala serupa. Sugiarta menegaskan, pihaknya sangat berhati-hati dalam menetapkan status suatu wilayah. Pasalnya, beberapa penyakit kulit pada sapi, seperti demodekosis, memiliki kemiripan gejala dengan LSD. “Sebelum hasil laboratorium keluar, ternak tersebut kami tetapkan sebagai suspek,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia mengimbau para peternak di Jembrana agar tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Peternak diminta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan sapi dengan gejala benjolan pada kulit. Menurutnya, pelaporan sejak dini sangat penting untuk mencegah meluasnya penularan sekaligus meminimalkan potensi kerugian ekonomi akibat penyakit tersebut.
(RRI Singaraja/Tika Utami)
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....