Kerauhan, Antara Tradisi Spiritual dan Tantangan Era Digital

  • 16 Jan 2026 10:24 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Fenomena 'Kerauhan' (kesurupan) atau 'Trance' yang sering terjadi di Bali kini menjadi sorotan di berbagai media sosial. Kerauhan merupakan aspek yang sangat mendalam dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Hindu.

Secara harfiah kerauhan berasal dari kata 'rauh' yang berarti 'datang'. Dalam kacamata tradisi, kerauhan diyakini sebagai bentuk komunikasi simbolis, cara alam, para Dewata atau leluhur menyampaikan pesan (pawisik) kepada masyarakat.

Ida Shri Bhagawan Krisnha Putra Nanda Nawa Sandhi, narasumber rekaman program acara Podcast LPP RRI Singaraja pada Kamis, 15 Januari 2026 di Griya Taman Sari Lingga Ashrama Banyuasri, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng memberikan tinjauan mendalam terkait fenomena ini. Ida Shri Bhagawan mengingatkan pentingnya membedakan antara kerauhan yang murni bersifat spiritual dengan gejala psikologis yang disebut hysteria massal.

“Kalau yang kerauhan beneran itu ciri-cirinya tidak terbakar api, tidak basah karena air dan bahkan tidak terluka benda tajam, sedangkan kalau pura-pura tentu begitu diacungin api dia mundur," kata Ida Shri Bhagawan .

Ada kalanya fenomena kerauhan adalah luapan emosional dari tekanan sosial yang tersimpan di alam bawah sadar, lalu dilepaskan saat berada di lingkungan yang sakral. Oleh karena itu peran tokoh adat dan agama sangat dibutuhkan.

“Dalam hal ini biasanya ada Sulinggih dan Pecalang yang ditunjuk, Sulinggih yang ditunjuk itu tentunya yang diharapkan menerima tedunnya Pawisik (pesan) saat kerauhan itu, Pecalang yang membantu menertibkan, disamping itu Pemangku-pemangku di Pura atau tempat tersebut pasti tau mana yang beneran dan pura-pura.” ujar Ida Shri Bhagawan.

Tidak semua fenomena kerauhan dianggap sama oleh masyarakat, sehingga muncul berbagai istilah-istilah kerauhan. Ada kerauhan yang bersifat Kerahuan Dewa, Kerauhan Bhuta dan sugesti atau perasaan yang menonjol dari orang orang tertentu.

Ida Shri Bhagawan mengharapkan masyarakat Bali tetap melestarikan tradisi ini sebagai kekayaan budaya. Namun tetap kritis dalam melihat esensinya agar tidak terjadi penyimpangan yang justru merugikan nilai-nilai kesucian pura itu sendiri. (RRI/Ratih).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....