Undiksha dan Sanggar Tindak Alit Sajikan Ngelawang Kontemporer
- 17 Nov 2025 08:12 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja kembali menunjukkan komitmennya pada pelestarian budaya Bali melalui program pengabdian masyarakat bertajuk Tri Cita Ngelawang yang dilaksanakan di Desa Sempidi, Badung, Mengwi. Melalui program ini, Undiksha dan Sanggar Tindak Alit menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas lokal dalam menjaga kesinambungan warisan budaya. Tri Cita Ngelawang dapat menjadi model pengembangan seni tradisi yang adaptif, kreatif, dan berkelanjutan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh ibu Lurah Sempidi, Pembina sanggar, serta tim PkM Undiksha dan ISI Denpasar.
Program ini merupakan kolaborasi antara tim akademisi Undiksha dan Sanggar Seni Budaya Tindak Alit yang diselenggarakan sejak Oktober – November 2025 melalui pelatihan dan pendampingan secara bertahap. Ketua Program Inovasi Seni Nusantara, Bapak Gusti Ngurah Sastra Agustika, S.Pd., M.Pd. menjelaskan, pelaksanaan program ini tidak hanya berfokus pada pementasan seni, namun juga pada proses pendampingan, pelatihan, dan pemberdayaan seniman muda di sanggar. Dalam proses ini, anggota Sanggar Tindak Alit menjadi pusat utama pengembangan karya.
“Tradisi Ngelawang memiliki filosofi yang sangat dalam bagi masyarakat Bali. Melalui pendekatan kontemporer, kami ingin memberikan ruang kreativitas bagi generasi muda tanpa meninggalkan makna sakralnya serta pertunjukan ngelawang ini dapat terus diminati oleh anak muda,” katanya menjelaskan. Program yang dibiayai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendikti Saintek ini tidak hanya bersifat pelatihan, namun juga serangkaian pendampingan intensif.

Para seniman muda di Sanggar Tindak Alit mendapat pembekalan manajemen tata kelola sanggar yang disampaikan oleh Prof. Dr. Anak Agung Gede Agung, S.Pd., M.Pd dalam Focus Group Discussion bersama pembina dan anggota muda sanggar pada tanggal 26 Oktober 2025 di Ruang Rapat Desa Adat Sempidi. “Adanya jadwal latihan yang tersusun dan terkoordinasi, para penari, penabuh, dan kru pendukung dapat berlatih secara rutin. Konsistensi ini berdampak langsung pada peningkatan kualitas kemampuan teknis dan artistik anggota sanggar. Program dapat direncanakan menjadi lebih matang, dan berkesinambungan,” ujarnya. Melalui FGD ini dapat tersusun dokumen rencana sanggar seni budaya Tindak Alit.

/vmoyrog3k79lw8x.jpeg)
Seniman muda juga dibekali literasi digital terkait editing dan branding pada tanggal 2 November 2025 yang disampaikan oleh Dr. I Gusti Agung Ayu Wulandari, M.Pd dengan tujuan agar sanggar Tindak Alit dapat dikenal oleh masyarakat secara cepat melalui media social seperti tiktok dan youtube. Tim Pengabdian dan masyarakat Undiksha juga berkolaborasi dengan sanggar dalam perancangan visualisasi grafis dalam bentu video animasi 3D Samasta Hita yang selanjutnya dikemas dalam QR Code saat pengunjung memasuki area pertunjukan.


Berkaitan dengan pendampingan tersebut, seniman muda juga mendapat pembekalan koreografi pada 25 Oktober 2025 di bawah bimbingan I Putu Candra Pradhita, S.Sn., M.Pd. dan Ni Made Liza Anggara Dewi, S.Sn., M.Sn. dari ISI Denpasar dengan menghasilkan koreografi baruyang diberi nama Samasta Hita. Pendampingan ini juga memerlukan latihan untuk menuju pertunjukan ngelawang yang dibimbing langsung oleh Bapak I Putu Candra Praditha selama proses latihan.Puncak kegiatan Tri Cita Ngelawang ini berlangsung pada 10 November 2025 melalui pementasan atau gelar pertunjukan pada tanggal 10 November 2025 di Wantilan Desa Adat Sempidi.
Gelar pertunjukan ini berhasil menarik perhatian warga, tokoh adat, serta pelajar. Pertunjukan ini dihadiri oleh tokoh masyarakat Desa Adat Sempidi yaitu Bendesa, dan Sabha Yowana. SamastaHita dalam Inovasi Tri Cita Ngelawang disajikan oleh seniman muda berjumlah 20 anggota sanggar dikemas dengan spektakuler dengan didukung lighting yang menawan. Seni tradisi Ngelawang Barong anak-anak Desa Sempidi kini kembali hidup sebagai seni pertunjukan edukatif, kreatif dan kontemporer, memperkuat citra Bali sebagai pusat kebudayaan yang dinamis ditengah arus modernisasi.

Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....