Penjor Galungan, Simbol Naga Kemakmuran Sarat Filosofi Luhur

  • 23 Apr 2025 07:47 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Hari Suci Galungan bagi umat Hindu bukan hanya tentang kemenangan Dharma melawan Adharma, tetapi juga tentang bagaimana kemenangan tersebut dimaknai melalui simbol-simbol suci yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu simbol yang paling mencolok dan sarat makna adalah penjor. Di balik bentuknya yang menjulang tinggi dan indah menghias jalanan, tersimpan filosofi kemakmuran yang dalam, bersumber dari alam dan kepercayaan leluhur.

"Segala kemeriahan ini sebagai simbol bagaimana ritual yang dilakukan umat kita untuk melakukan pemujaan besar (Piodalan Jagat) menuju pada kemakmuran. Dalam Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I–IX, dinyatakan bahwa Penjor adalah simbul Gunung Agung. Segala pala bungkah, pala gantung dan sajen pada sanggar Penjor, melambangkan persembahan terhadap Bhatara di Gunung Agung (Bhatara Giri Putri)," ucap Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Jro Kadek Satria, Selasa (22/4/2025).

Ia menegaskan, dari Gunung Agung itulah diyakini munculnya sumber kemakmuran. Maka tidak mengherankan jika penjor menjadi elemen yang sangat penting dalam Hari Suci Galungan sebagai sarana pemujaan kepada para Dewa yang bersthana di Gunung tersebut.

"Hal inilah yang menyebabkan bahwa isi dalam pembuatan penjor dalam rangka Galungan hendaknya mengikuti keputusan kesatuan tafsir ini agar tidak terlalu melenceng dalam pembuatannya," katanya.

Jro Satria menguraikan bahwa penjor dalam tradisi Galungan terdiri atas dua jenis. Pertama, Penjor Upakara, yaitu penjor yang digunakan secara khusus dalam upacara keagamaan. Penjor ini harus berisi berbagai sarana alam seperti pala bungkah, pala gantung, palawija, dan lainnya sebagai simbol kemakmuran.

“Kemakmuran diperlihatkan dengan segala hasil bumi yang dihasilkan. Artinya, apapun yang kita hasilkan dari kebun, itulah yang kita persembahkan dalam pembuatan penjor. Hal ini akan memberikan nilai baik dan kepuasan tersendiri,” ujarnya.

Jenis kedua adalah Penjor Dekorasi, yang lebih menekankan unsur estetika dan tidak digunakan dalam konteks upacara suci. Penjor jenis ini sering kali dihiasi dengan bahan seperti stereofoam dan plastik. Namun, Jro Satria mengingatkan bahwa penggunaan bahan non-alami harus dikurangi sesuai Perda Provinsi Bali tentang pengurangan sampah plastik.

Dalam pandangan spiritual Hindu, bentuk penjor disusun menyerupai naga, simbol kemakmuran dalam filosofi Bali. Mulai dari bambu sebagai badan naga dan lambang Dewa Brahma, janur muda sebagai kulit naga, daun-daunan sebagai rambut naga yang mewakili Dewa Sangkara, hingga hasil bumi yang menggambarkan perut naga dan melambangkan Dewa Wisnu.

Selain itu, ada sampian penjor sebagai ekor naga yang melambangkan Parama Siwa, dan sanggah penjor atau Sanggah Ardha Candra sebagai kepala dan mulut naga. Tak ketinggalan kain putih kuning sebagai wastra yang melambangkan Dewa Mahadewa dan Dewa Iswara.

"Demikianlah sekiranya makna penjor yang kita gunakan sebagai pelengkap hari suci Galungan. Utamanya para generasi muda, pemahaman ini harus terus dipegang, pang sing nak mula keto, karena penjor ini yadnya yang sederhana tetapi sarat makna. Rahajeng rahina suci Galungan dengan penjor yang sederhana dan sarat makna, rahayu," katanya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....