Kenali Hoarding Disorder: Tanda dan Cara Mengatasinya
- 02 Feb 2025 15:38 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Pernahkah kamu merasa sulit untuk membuang barang yang sebenarnya sudah tidak terpakai atau bahkan tidak tahu lagi di mana harus meletakkan barang yang menumpuk di rumah? Jika kebiasaan ini terjadi terus-menerus, bisa jadi itu adalah tanda dari hoarding disorder, sebuah kondisi psikologis yang membuat penderitanya merasa cemas saat harus melepaskan barang-barang mereka, bahkan jika barang tersebut sudah tidak memiliki nilai guna.
Apa Itu Hoarding Disorder?
Dikutip dari laman Alodokter, hoarding disorder atau gangguan menimbun barang adalah kondisi yang menyebabkan seseorang terus menambah barang di rumah mereka, meskipun barang tersebut sudah tidak diperlukan. Biasanya, penderita hoarding disorder menyimpan barang karena merasa barang tersebut bisa berguna di masa depan, memiliki nilai sentimental, atau bahkan bersejarah. Tidak jarang, barang-barang yang disimpan meliputi buku, pakaian, makanan, hingga benda bekas yang sudah kotor atau rusak.
Berbeda dengan kolektor yang merawat barang-barangnya dengan baik, penderita hoarding disorder cenderung menyimpan barang tanpa perawatan yang baik dan menumpuknya dengan sembarangan. Akibatnya, rumah menjadi penuh dan berantakan, serta membatasi ruang gerak penghuninya.
Gejala Hoarding Disorder
Penderita hoarding disorder umumnya mengalami gejala-gejala berikut:
- Kesulitan membuang barang yang tidak terpakai.
- Cemas atau marah ketika barang-barang mereka dibersihkan atau dibuang oleh orang lain.
- Kecenderungan untuk terus menambah barang meski ruang di rumah sudah terbatas.
- Kehilangan kemampuan untuk mengorganisasi dan merencanakan barang-barang yang dimiliki.
Gejala ini tidak hanya berdampak pada penderita, tetapi juga bisa mengganggu hubungan keluarga, menciptakan ketegangan, bahkan berpotensi menimbulkan stres atau depresi bagi anggota keluarga yang tinggal bersama penderita.
Penyebab Hoarding Disorder
Meskipun penyebab pasti dari hoarding disorder belum diketahui, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalaminya, antara lain:
- Riwayat keluarga dengan hoarding disorder.
- Pengalaman traumatis seperti kehilangan orang yang disayangi atau peristiwa kehidupan yang berat.
- Gangguan psikologis lainnya, seperti depresi, gangguan kecemasan, OCD (Obsessive Compulsive Disorder), dan ADHD.
Kondisi ini juga lebih umum pada orang yang memiliki kehidupan yang terisolasi atau tumbuh di lingkungan yang tidak teratur, sehingga mereka merasa menimbun barang bisa memberi rasa aman.
Bagaimana Cara Mengatasi Hoarding Disorder?
Meski hoarding disorder bisa menjadi gangguan yang sangat mengganggu kehidupan seseorang, penanganan yang tepat dapat membantu mengelola kondisi ini. Salah satu langkah utama adalah psikoterapi, yang bertujuan untuk:
- Membantu penderita untuk memilah dan memilih barang mana yang bisa disimpan dan mana yang harus dibuang.
- Membantu penderita memahami alasan di balik kebiasaan menimbun barang.
- Mengajarkan cara menahan dorongan untuk menambah barang.
Dukungan dari keluarga juga sangat penting dalam proses ini. Anggota keluarga harus memberikan dorongan positif dan mendukung penderita untuk menjalani terapi dengan penuh kesabaran.
Hoarding disorder bukanlah kebiasaan sepele. Kondisi ini memerlukan perhatian serius, baik dari pihak profesional maupun dukungan keluarga. Dengan penanganan yang tepat, penderita hoarding disorder dapat belajar untuk memilah barang-barang mereka, menjaga lingkungan rumah agar tetap bersih dan teratur, serta menjalani kehidupan yang lebih sehat dan nyaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....