Kasus Kekerasan Anak Melonjak, Masyarakat Buleleng Berani Bersuara!

  • 28 Jan 2025 07:41 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Kabupaten Buleleng mencatat peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak pada tahun 2024. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Buleleng, I Nyoman Riang Pustaka, mengungkapkan bahwa kasus kekerasan yang dilaporkan meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Data menunjukkan, jumlah kasus kekerasan pada tahun 2023 tercatat sebanyak 50 kasus. Namun, pada tahun 2024, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 80 kasus. Meski angka ini memprihatinkan, Riang Pustaka menyebut ada dua kemungkinan penyebab peningkatan tersebut. Pertama, peningkatan jumlah kasus kekerasan itu sendiri. Kedua, adanya kesadaran masyarakat yang semakin tinggi untuk melaporkan kejadian kekerasan.

"Kita belum bisa memastikan apakah peningkatan ini karena memang kasusnya bertambah, atau karena masyarakat sudah lebih berani melapor. Hal ini perlu kajian lebih lanjut. Namun, yang pasti, keberanian masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan adalah langkah positif yang patut diapresiasi," ujarnya, Minggu (26/1/2025).

Dalam skala nasional, Indonesia saat ini masuk dalam 10 besar dari 189 negara dengan kasus kekerasan seksual terhadap anak terbanyak. Faktor pemicu utama kekerasan ini, menurutnya, adalah dampak negatif media sosial dan teknologi. Kemudahan akses anak-anak terhadap konten yang tidak sesuai menjadi perhatian khusus.

Sebagai langkah preventif, wacana pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak sedang digodok. Usulan ini mengatur durasi penggunaan media sosial maksimal 1-2 jam per hari. Namun, kebijakan ini masih akan melibatkan masukan dari forum anak, masyarakat, dan audiensi dengan DPRD.

"Pembatasan ini bertujuan untuk melindungi anak-anak kita dari paparan konten yang tidak sesuai. Namun, tentunya kita ingin mendengar masukan dari anak-anak dan masyarakat agar kebijakan ini dapat diterima dan efektif," ucapnya.

Selain upaya pengendalian media sosial, P2KBP3A terus mendorong program edukasi, kampanye kesadaran, dan peningkatan perlindungan anak. Riang Pustaka menegaskan, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak dan perempuan di Buleleng.

Dengan peningkatan pelaporan kasus dan langkah-langkah pencegahan yang direncanakan, harapannya jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat ditekan di masa mendatang.

"Mari kita semua bersama-sama menjaga generasi penerus kita," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....