Makam Keramat Raden Ayu Siti Khotijah: Sebuah Jejak Sejarah di Denpasar
- 22 Des 2024 15:01 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Di tengah hiruk-pikuk Kota Denpasar, terdapat sebuah makam keramat yang menjadi saksi sejarah dan simbol harmoni budaya. Makam tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir Raden Ayu Siti Khotijah, seorang putri dari Kerajaan Pemecutan yang kisah hidupnya dipenuhi dengan keindahan, cobaan, dan pengabdian spiritual.
Kisah Awal Sang Putri
Mengutip dari laman denpasarkota.go.id, Raden Ayu Siti Khotijah, yang nama aslinya adalah Gusti Ayu Made Rai, merupakan putri Raja Pemecutan. Ia dikenal sebagai sosok yang cantik jelita, penuh pesona, dan menjadi kebanggaan istana. Kecantikannya menarik perhatian para pembesar kerajaan di Bali yang ingin meminangnya. Namun, kehidupan sang putri berubah drastis ketika ia mengidap penyakit kuning yang sulit disembuhkan. Dalam usahanya menyelamatkan sang putri, Raja Pemecutan mengadakan sayembara: siapa pun yang berhasil menyembuhkan penyakit putrinya akan diangkat menjadi bagian keluarga kerajaan.
Peran Cakraningrat IV
Berita sayembara ini sampai ke telinga seorang ulama di Yogyakarta. Ulama tersebut mengirim Raja Madura, Cakraningrat IV, untuk mengikuti sayembara. Dengan izin Allah, Cakraningrat IV berhasil menyembuhkan Gusti Ayu Made Rai. Sebagai bentuk penghargaan, keduanya dinikahkan. Sebelum pernikahan, sang putri memutuskan untuk memeluk agama Islam dan diberi nama Raden Ayu Siti Khotijah.
Perjalanan Pulang ke Bali
Setelah menikah, Raden Ayu Siti Khotijah tinggal di Madura bersama suaminya. Namun, suatu ketika ia memutuskan untuk kembali ke Bali dengan ditemani rombongan pengiringnya. Ia membawa sejumlah pusaka, termasuk sebuah tusuk konde, sebagai bekal dari suaminya. Kepulangannya disambut hangat oleh keluarga dan rakyat di Puri Pemecutan. Namun, identitas barunya sebagai seorang muslim tidak diketahui oleh pihak keluarga.
Tragedi di Puri Pemecutan
Saat di Puri Pemecutan, Raden Ayu melaksanakan sholat maghrib di sebuah area yang biasa digunakan untuk persembahyangan Hindu. Salah satu patih kerajaan yang melihatnya beribadah dengan mukena menganggapnya sedang melakukan hal aneh yang diasosiasikan dengan ilmu hitam. Laporan tersebut memicu kemarahan Raja Pemecutan, yang akhirnya memerintahkan pembunuhan sang putri.
Raden Ayu Siti Khotijah menerima nasibnya dengan penuh ketegaran. Ia memberikan petunjuk kepada para patih bahwa ia hanya bisa dibunuh dengan tusuk konde yang dililit daun sirih dan benang tri datu (merah, putih, dan hitam). Sebelum meninggal, ia berpesan bahwa jika tubuhnya mengeluarkan asap harum, maka makamnya harus dijadikan tempat keramat.
Makam Keramat yang Harum
Setelah eksekusi dilakukan, tubuh Raden Ayu benar-benar mengeluarkan asap yang beraroma harum. Kejadian ini membuat para patih dan pengawal terguncang. Sang raja pun sangat menyesali keputusannya. Sesuai dengan pesan Raden Ayu, makamnya kemudian dijadikan tempat suci yang kini dikenal sebagai makam keramat Raden Ayu Siti Khotijah.
Harmoni Budaya dan Spiritual
Makam Raden Ayu Siti Khotijah kini menjadi simbol penghormatan lintas agama dan budaya. Tempat ini sering dikunjungi oleh masyarakat muslim maupun non-muslim yang ingin mengenang kisahnya. Dengan luas sekitar 9 hektare, kompleks makam ini dirawat oleh keturunan Gede Sedahan Gelogor, yang dipercaya sebagai penjaga makam sejak zaman dahulu.
Kisah Raden Ayu Siti Khotijah tidak hanya menyentuh aspek sejarah, tetapi juga mengajarkan tentang keteguhan iman, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan. Makam keramatnya menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni di tengah keragaman masyarakat Bali yang kaya akan tradisi dan kepercayaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....