Peran Orang Tua Kunci Kendalikan Remaja saat Ramadan
- 25 Feb 2026 11:03 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Isu pengawasan dan pendampingan orang tua terhadap remaja menjadi sorotan dalam program “Obrolan Ramadan” yang digelar Pro 2 RRI Singaraja, Selasa (24/2/2026). Mengangkat topik “Antara Ibadah dan Nongkrong”, dialog ini menghadirkan Bahrul, mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha, serta Andrian Alfarizy Maulana. Keduanya menekankan bahwa fenomena remaja yang lebih aktif nongkrong dibanding meningkatkan ibadah selama Ramadan tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga, terutama orang tua, dalam membentuk kebiasaan dan karakter anak.
Menurut Andrian, masa remaja adalah periode pencarian jati diri yang sarat dengan dorongan untuk diakui oleh lingkungan pertemanan. Pada fase ini, remaja cenderung memprioritaskan kesenangan dan kebersamaan dengan teman sebaya. Jika tidak dibarengi dengan pembinaan yang tepat, kebiasaan menunda ibadah dapat terbentuk secara perlahan. Ia menilai bahwa komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci agar remaja tidak merasa digurui, melainkan dipahami. Peran ibu, khususnya bagi anak laki-laki, disebut memiliki pengaruh emosional yang kuat dalam membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab.
Sementara itu, Bahrul menyoroti dampak penggunaan gawai yang berlebihan. Ia menyebut generasi saat ini sulit terlepas dari gadget, sehingga kontrol diri dan pengawasan keluarga sangat dibutuhkan. Menurutnya, lingkungan pergaulan memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku remaja. Ia mengibaratkan pertemanan seperti berdekatan dengan penjual parfum yang akan membuat seseorang ikut harum, atau sebaliknya, berada di lingkungan negatif yang dapat merusak citra dan kebiasaan. Karena itu, orang tua diharapkan lebih aktif memantau aktivitas anak, termasuk dengan siapa mereka bergaul dan bagaimana mengisi waktu luang selama Ramadan.
Dialog tersebut juga menegaskan bahwa solusi bukan sekadar melarang anak nongkrong, melainkan mengarahkan aktivitas tersebut menjadi lebih produktif. Nongkrong dapat diisi dengan diskusi, kajian, atau kegiatan sosial yang tetap memberi ruang interaksi tanpa meninggalkan kewajiban ibadah. Dengan kolaborasi antara keluarga, lingkungan, dan media penyiaran publik, Ramadan diharapkan menjadi momen pembentukan karakter generasi muda. Melalui program ini, pesan yang ingin ditegaskan adalah pentingnya keseimbangan antara kebutuhan sosial remaja dan tanggung jawab spiritual, agar keduanya dapat berjalan selaras tanpa saling meniadakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....