Sejarah Ngabuburit dan Perkembangannya

  • 03 Mar 2025 06:54 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana penuh kerinduan bagi umat muslim. Selain ibadah puasa dan kebersamaan saat berbuka, ada satu tradisi khas yang selalu dinantikan, yaitu ngabuburit. Tradisi ini identik dengan aktivitas menunggu waktu berbuka puasa yang dilakukan dengan berbagai kegiatan menarik.

Asal Usul Kata Ngabuburit

Dikutip dari laman Umroh.com, istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, tepatnya dari kata burit yang berarti sore hari. Dalam tradisi masyarakat Sunda, ngabuburit merupakan kependekan dari ngalantung ngadagoan burit, yang artinya bersantai sambil menunggu waktu sore tiba.

Tradisi ini berkembang seiring masuknya bulan Ramadhan, di mana umat muslim menanti azan magrib sebagai tanda waktu berbuka puasa. Karena selalu dilakukan di sore hari menjelang berbuka, ngabuburit pun melekat dengan suasana Ramadhan.

Dari Kegiatan Religius hingga Gaya Hidup

Di masa lalu, ngabuburit identik dengan kegiatan bernuansa religius, seperti mengaji, mengikuti pesantren kilat, atau mendengarkan ceramah agama. Orang tua biasanya menganjurkan anak-anak untuk mengikuti aktivitas ini agar mereka tidak terlalu fokus pada rasa lapar saat berpuasa.

Namun, seiring perkembangan zaman, aktivitas ngabuburit mulai beragam. Tidak hanya diisi kegiatan keagamaan, kini ngabuburit juga kerap diwarnai kegiatan seperti wisata kuliner, berburu takjil, nongkrong di tempat-tempat hits, hingga mengikuti kegiatan sosial seperti berbagi takjil.

Ngabuburit dalam Perspektif Islam

Dalam ajaran Islam, ngabuburit pada dasarnya diperbolehkan selama diisi dengan kegiatan positif dan tidak melanggar syariat. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-‘Asr, Allah mengingatkan manusia agar tidak menyia-nyiakan waktu, kecuali bagi mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Ngabuburit bisa menjadi waktu yang penuh berkah jika dimanfaatkan untuk kegiatan bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, berbagi makanan berbuka kepada yang membutuhkan, atau mengikuti kajian menjelang magrib. Sebaliknya, ngabuburit yang diisi dengan aktivitas sia-sia, seperti bergosip atau berbuat maksiat, justru bisa mengurangi pahala puasa.

Antara Tradisi dan Modernisasi

Ngabuburit kini bukan sekadar tradisi, tapi juga bagian dari gaya hidup modern. Liputan media, baik televisi, cetak, maupun media sosial, turut memperkenalkan dan memperluas makna ngabuburit ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan di luar komunitas Sunda.

Terlepas dari bentuk kegiatannya, ngabuburit tetap menjadi momen spesial yang memperkaya warna Ramadhan. Bagi umat muslim, ngabuburit bukan sekadar mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi ladang amal dan sarana mempererat kebersamaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....