Road to World Cup 2026 Jadi Momentum Evaluasi Pembinaan Sepak Bola Indonesia

  • 08 Jul 2026 16:28 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Format Piala Dunia 2026 baru melibatkan 48 negara peserta dan diselenggarakan di tiga negara (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko), membuka peluang lebih besar bagi negara-negara Asia termasuk Indonesia.
  • Prof. Dr. I Wayan Artanayasa menilai kualitas Tim Nasional Indonesia mengalami perkembangan signifikan dengan kombinasi pemain keturunan dan pemain lokal yang meningkatkan daya saing tim di level Asia.
  • Pembinaan usia dini, sekolah sepak bola, akademi, dan kompetisi kelompok umur harus diperkuat sebagai fondasi utama untuk mencapai prestasi jangka panjang dan memastikan regenerasi pemain berkelanjutan.
  • Indonesia memerlukan perencanaan jangka panjang, kompetisi yang sehat, dan konsistensi dalam pengembangan pemain untuk mampu bersaing dengan negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Iran, Australia, dan Arab Saudi.

RRI.CO.ID, Singaraja – Bergulirnya Road to World Cup 2026 tidak hanya menghadirkan antusiasme pecinta sepak bola dunia, tetapi juga menjadi momentum evaluasi bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Dengan format baru yang diikuti 48 negara peserta, peluang negara-negara Asia untuk tampil di putaran final semakin besar. Namun, Indonesia masih harus bekerja keras untuk mewujudkan impian tampil di ajang sepak bola paling bergengsi tersebut.

Hal itu disampaikan akademisi sekaligus pengamat sepak bola, Prof. Dr. I Wayan Artanayasa, menurutnya, perubahan format Piala Dunia merupakan sejarah baru karena selain jumlah peserta bertambah, turnamen juga untuk pertama kalinya digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Meski Indonesia belum berhasil mengamankan tiket ke putaran final, Artana menilai kualitas Tim Nasional Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran pemain keturunan yang dipadukan dengan pemain lokal dinilai mampu meningkatkan daya saing tim di level Asia.

"Kekuatan Timnas Indonesia sebenarnya sudah jauh meningkat. Tinggal bagaimana membangun kekompakan tim dan melakukan pembinaan berkelanjutan agar mampu bersaing di level dunia," ujarnya.

Ia menegaskan, pembinaan usia dini menjadi fondasi utama dalam membangun prestasi jangka panjang. Menurutnya, sekolah sepak bola, akademi, serta kompetisi kelompok umur harus terus diperkuat agar regenerasi pemain berjalan secara berkesinambungan.

Artanias juga menilai Bali menunjukkan perkembangan positif dalam pembinaan pemain muda. Sejumlah pemain asal Bali bahkan telah dipercaya memperkuat tim nasional kelompok umur hingga dipercaya menjadi kapten tim.

Selain pembinaan, ia mendorong pemain muda Indonesia agar memiliki keberanian berkarier di kompetisi luar negeri untuk meningkatkan kualitas permainan, pengalaman, dan mental bertanding.

Menurutnya, target lolos ke Piala Dunia tidak dapat dicapai melalui langkah instan. Dibutuhkan perencanaan jangka panjang, kompetisi yang sehat, serta konsistensi dalam pengembangan pemain agar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara Asia yang selama ini menjadi langganan Piala Dunia seperti Jepang, Korea Selatan, Iran, Australia, dan Arab Saudi.

Ia berharap kegagalan pada kualifikasi kali ini menjadi pelajaran penting untuk mempersiapkan Timnas Indonesia menghadapi Piala Dunia edisi berikutnya.

"Harus ada pembinaan yang berkelanjutan. Dengan kombinasi pemain lokal dan pemain keturunan serta sistem yang semakin baik, peluang Indonesia tampil di Piala Dunia ke depan tetap terbuka," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....