Pak Tua, Istirahatlah: Marcelo Bielsa dan Bayang-bayang Piala Dunia
- 28 Jun 2026 14:44 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Marcelo Bielsa meledak. Uruguay butuh kemenangan untuk lolos ke babak 32 besar. Tapi pada laga penentuan lawan Spanyol, mereka harus berjalan keluar lapangan dengan kepala tertunduk.
Uruguay diharapkan bisa menjadi salah satu kejutan di Piala Dunia 2026, tapi nasib mereka bahkan tidak lebih baik dari tim debutan macam Cabo Verde. Tiga pertandingan: dua hasil imbang dan satu kekalahan.
“Saya tidak meninggalkan apa pun untuk sepak bola Uruguay,” kata Bielsa di hadapan para wartawan setelah Uruguay dikalahkan Spanyol 0-1, Jumat (26/6/2026). “Peringkat empat di kualifikasi (Piala Dunia 2026), peringkat tiga di Copa America 2024, dan tentu penampilan di Piala Dunia 2026 ini—bisa Anda definisikan sendiri,” lanjutnya dengan menunduk—matanya menatap meja dan mikrofon di depannya.
Bielsa kecewa. Dan marah, tentu saja. Kemarahan yang tumbuh dari perasaan putus asa karena apa yang ia bayangkan—yang suporter Uruguay dan penikmat sepak bola bayangkan—jauh panggang dari api.
Uruguay datang ke Piala Dunia 2026 dengan modal skuat yang cukup mewah. Ada nama-nama beken LaLiga macam Ronald Araujo (Barcelona) dan Federico Valverde (Real Madrid). Ada pula nama seperti Maximiliano Araujo (Sporting), Manuel Ugarte (Manchester United), Jose Maria Gimenez (Atletico Madrid), Rodrigo Bentancur (Tottenham Hotspur), dan Darwin Nunez (Al-Hilal).
Deretan nama yang membuat target Uruguay untuk, minimal, tampil di babak perempat final terdengar masuk akal. Namun boro-boro tampil di babak perempat final, untuk lolos dari fase grup saja mereka kepayahan.
Sepak bola, seperti hidup, barangkali punya algoritma tersendiri untuk mempertemukan seseorang dengan masa lalunya.
Dua puluh empat tahun lalu, Bielsa pernah berada dalam posisi yang nyaris sama.
Waktu itu ia mengenakan jaket tim nasional Argentina. Rambutnya masih hitam. Kerut di wajahnya belum sedalam sekarang. Tetapi sorot matanya tak banyak berubah. Tajam dan menyala.
Argentina datang ke Piala Dunia 2002 tanpa menyisakan ruang untuk keraguan. Mereka menjuarai grup kualifikasi CONMEBOL dengan selisih 12 poin atas Ekuador, mencetak 42 gol dan hanya kalah sekali dalam 18 pertandingan, serta memiliki generasi yang membuat negara-negara lain iri.
Roberto Ayala, Pablo Aimar, dan Kily Gonzalez sedang menikmati musim terbaiknya bersama Valencia. Bertiga, mereka membawa Valencia menjuarai LaLiga 2001-2002, pertama kali dalam 31 tahun. Lalu, ada Matias Almeyda yang juara Coppa Italia di Parma. Ada juga Diego Placente (Bayer Leverkusen), Mauricio Pochettino (PSG), Walter Samuel (AS Roma), Gabriel Batistuta (AS Roma), Javier Zanetti (Inter), Hernan Crespo (Lazio), dan nama-nama lain yang jika disusun di atas kertas, tampak seperti garansi bagi Argentina untuk mengamankan trofi Piala Dunia saat itu.
Tetapi, sepak bola tidak pernah dimainkan di atas kertas.
Argentina mengalahkan Nigeria, lalu kalah dari Inggris lewat penalti David Beckham. Pada laga terakhir mereka bermain imbang lawan Swedia. Empat poin. Tidak cukup untuk lolos ke babak 16 besar.
Ketika itu, saya yang belum genap sembilan tahun, tentu belum paham betul mengapa Bielsa dianggap revolusioner. Tetapi saya masih ingat betapa tak percayanya saya melihat Argentina harus angkat kaki dari Jepang. Saya rasa mereka yang menonton Piala Dunia 2002 juga merasakan hal yang sama.
Sejak saat itu, Bielsa seakan berjalan sambil membawa bayangannya sendiri. Ke mana pun ia pergi—Chile, Athletic Club, Leeds United, Uruguay—bayangan dari Jepang dan Korea Selatan selalu menghantuinya.
Sulit mengatakan bahwa Bielsa berubah. Ia masih pria yang sama. Masih percaya pada detil kecil. Masih terobsesi pada ruang, pada pressing, pada latihan yang melelahkan. Masih percaya bahwa pemainnya harus mengejar bola sepanjang waktu dan wajib membuang rasa takut—bermain layaknya Leonidas dan 300 pasukannya pada palagan Thermopylae.
Ia juga masih keras kepala.
Bielsa tidak pernah belajar menjadi orang yang pragmatis. Dunia sepak bola berubah berkali-kali, tetapi ia tetap datang membawa keyakinan yang sama. Seolah ia tidak mencari kemenangan dan hanya ingin mengajak semua orang bersenang-senang.
Barangkali karena itu ia begitu dihormati. Pep Guardiola mengaku bahwa ia banyak belajar dari Bielsa. Mauricio Pochettino menyebutnya mentor. Diego Simeone, Lionel Scaloni, dan Andoni Iraola sedikit banyak terpengaruh oleh gaya permainannya. Bahkan Sebastian Beccacece, pelatih Ekuador, punya tato Bielsa di punggungnya.
Tetapi sebagai pelatih yang memengaruhi banyak pelatih lain, koleksi trofinya jauh lebih sedikit dibandingkan para “santrinya”.
Mungkin begitulah hidup memperlakukan sebagian orang.
Ada yang mewariskan piala. Ada yang mewariskan idealisme. Bielsa tampaknya termasuk golongan yang kedua.
Itulah sebabnya kalimat: “Saya tidak meninggalkan apa pun untuk sepak bola Uruguay,” terdengar begitu ganjil.
Ketika Bielsa datang pada Mei 2023, Uruguay sedang mencari arah baru setelah lima belas tahun berada di bawah Oscar Tabarez dan masa singkat Diego Alonso. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia mengubah wajah La Celeste.
Uruguay kembali bermain dengan garis pertahanan tinggi, menekan sejak sepak mula, dan berani menyerang siapa pun lawan yang dihadapi.
Mereka mengalahkan Brasil di Montevideo. Mereka juga menumbangkan Argentina di Buenos Aires. Lalu mereka finis di posisi ketiga Copa America 2024.
Semua itu tidak mungkin disebut sebagai “tidak meninggalkan apa pun.”
Tetapi mungkin Bielsa memang sedang bicara dengan ukuran yang berbeda. Bagi kebanyakan orang, perjalanannya bersama Uruguay sejak 2023 layak disebut berhasil. Namun baginya, mungkin semua itu tetap terasa kurang karena ia gagal membawa Uruguay melangkah ke babak gugur Piala Dunia 2026.
Saya lalu memahami mengapa malam itu Guadalajara terasa begitu muram. Yang sedang duduk di depan mikrofon bukan sekadar pelatih Uruguay yang gagal membawa timnya ke babak 32 besar. Ia adalah Marcelo Bielsa yang, dua puluh empat tahun setelah Jepang dan Korea Selatan, kembali dipaksa bertemu dengan luka yang sama.
Seakan waktu telah berjalan jauh. Tetapi, bayangan itu masih berada beberapa langkah di belakangnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....