FIFA Terapkan Prosedur Khusus untuk Bendera Arab Saudi dan Irak di Piala Dunia 2026
- 18 Jun 2026 17:33 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Piala Dunia 2026
- FIFA
- Arab Saudi
- Irak
- bendera Arab Saudi
- bendera Irak
- seremoni pembukaan
- budaya dan agama
- sepak bola dunia
- Miami
RRI.CO.ID, Singaraja – Gelaran Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan persaingan sengit di atas lapangan, tetapi juga menghadirkan perhatian terhadap aspek budaya dan keagamaan dalam setiap rangkaian acara resmi. Salah satu momen yang menjadi sorotan terjadi saat seremoni pembukaan pertandingan Arab Saudi melawan Uruguay serta Irak menghadapi Norwegia, ketika FIFA menerapkan prosedur khusus terhadap bendera kedua negara Timur Tengah tersebut.
Dalam turnamen kali ini, FIFA memperkenalkan format seremoni baru dengan membentangkan bendera raksasa negara peserta di lapangan sebelum lagu kebangsaan dinyanyikan. Namun, perlakuan berbeda diberikan kepada bendera Arab Saudi yang tidak dibentangkan di atas rumput lapangan seperti negara lainnya.
Sebagai gantinya, bendera Arab Saudi tetap diangkat dan dibawa oleh petugas selama prosesi berlangsung. Keputusan tersebut diambil karena pada bendera Arab Saudi terdapat kalimat syahadat, yaitu pernyataan keimanan yang memiliki kedudukan sangat suci dalam ajaran Islam.
Dalam tradisi dan ketentuan yang berlaku di Arab Saudi, bendera yang memuat kalimat syahadat harus diperlakukan dengan penuh penghormatan dan tidak boleh menyentuh tanah atau ditempatkan pada posisi yang dianggap kurang pantas. Oleh karena itu, FIFA memilih menyesuaikan tata cara seremoni untuk menghormati nilai-nilai tersebut.
Untuk menjaga keseragaman visual selama prosesi pembukaan pertandingan, FIFA juga meminta petugas mengangkat bendera Uruguay sehingga kedua bendera ditampilkan dalam format yang sama. Langkah ini dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas nasional sekaligus nilai budaya dan keagamaan yang melekat pada simbol negara Arab Saudi.
Prosedur serupa juga diterapkan dalam pertandingan antara Irak dan Norwegia. Bendera Irak yang memuat kalimat takbir "Allahu Akbar" tidak dibentangkan langsung di atas lapangan, melainkan tetap diangkat oleh petugas selama seremoni berlangsung.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap makna religius yang terkandung dalam simbol kenegaraan Irak. FIFA menilai bahwa penyesuaian tersebut penting untuk memastikan seluruh peserta mendapatkan perlakuan yang menghargai latar belakang budaya, tradisi, dan keyakinan masing-masing.
Penerapan prosedur khusus ini menarik perhatian banyak penonton di stadion maupun pengguna media sosial. Banyak pihak menilai langkah FIFA menunjukkan komitmen untuk mengakomodasi keberagaman budaya dan agama dalam ajang olahraga terbesar di dunia.
Selain menjadi simbol persatuan melalui olahraga, Piala Dunia juga dipandang sebagai ruang pertemuan berbagai bangsa dengan latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu, penghormatan terhadap simbol-simbol nasional yang memiliki nilai budaya dan religius menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan turnamen internasional tersebut.
Melalui kebijakan ini, FIFA berupaya menjaga keseimbangan antara standar seremoni yang berlaku secara global dengan penghormatan terhadap tradisi dan identitas negara peserta. Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa nilai inklusivitas dan penghargaan terhadap keberagaman menjadi bagian dari semangat yang diusung dalam Piala Dunia 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....